<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ARTIKEL ISLAM</title>
	<atom:link href="http://abafadhlan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abafadhlan.wordpress.com</link>
	<description>Berdasarkan  Al-Quran dan Sunnah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 13 Feb 2010 03:04:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='abafadhlan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/2cad902ce5729cda003dd9ff1cb70d12?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>ARTIKEL ISLAM</title>
		<link>http://abafadhlan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abafadhlan.wordpress.com/osd.xml" title="ARTIKEL ISLAM" />
	<atom:link rel='hub' href='http://abafadhlan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Go Green, Sebuah Amal Jariyah</title>
		<link>http://abafadhlan.wordpress.com/2010/02/13/go-green-sebuah-amal-jariyah/</link>
		<comments>http://abafadhlan.wordpress.com/2010/02/13/go-green-sebuah-amal-jariyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2010 03:03:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abafadhlan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abafadhlan.wordpress.com/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Buletin Jum’at At-Tauhid Dekade terakhir ini, pemerintah Indonesia terus melancarkan program penghijauan. Oleh karena itu, dimana-mana kita akan melihat reklame dan promosi penghijauan, baik melalui media visual, maupun audio-visual. Promosi ini banyak terpajang di sudut-sudut jalan, dan tertempel di mobil-mobil dan lainnya yang mengajak kita menyukseskan program tersebut. Khusus Provinsi Sulawesi Selatan, pemerintahnya telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=181&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Penulis: Buletin Jum’at At-Tauhid</p>
<p style="text-align:justify;">Dekade terakhir ini, pemerintah Indonesia terus melancarkan program penghijauan. Oleh karena itu, dimana-mana kita akan melihat reklame dan promosi penghijauan, baik melalui media visual, maupun audio-visual. Promosi ini banyak terpajang di sudut-sudut jalan, dan tertempel di mobil-mobil dan lainnya yang mengajak kita menyukseskan program tersebut. Khusus Provinsi Sulawesi Selatan, pemerintahnya telah mencanangkan program penghijauan dengan tema &#8220;South Sulawesi Go Green&#8221; (Sulawesi Selatan Menuju Penghijauan).</p>
<p>Sebagian orang menyangka bahwa program penghijauan bukanlah suatu amalan yang mendapatkan pahala di sisi Allah, sehingga ada diantara mereka yang bermalas-malasan dalam mendukung program tersebut. Demi menepis persangkaan yang salah ini, kali ini kami akan mengulas PENTINGNYA PENGHIJAUAN menurut tuntunan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- beserta dalil-dalilnya.</p>
<p>Para pembaca yang budiman, mungkin anda masih mengingat sebuah hadits yang masyhur dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, beliau bersabda,</p>
<p>إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ</p>
<p>&#8220;Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalannya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah (yang mengalir pahalanya), ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shaleh yang mendo’akan kebaikan baginya&#8221;. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Washiyyah (4199)]</p>
<p>Perhatikan, satu diantara perkara yang tak akan terputus amalannya bagi seorang manusia, walaupun ia telah meninggal dunia adalah SEDEKAH JARIYAH, sedekah yang terus mengalir pahalanya bagi seseorang.</p>
<p>Para ahli ilmu menyatakan bahwa sedekah jariyah memiliki banyak macam dan jalannya, seperti membuat sumur umum, membangun masjid, membuat jalan atau jembatan, menanam tumbuhan baik berupa pohon, biji-bijian atau tanaman pangan, dan lainnya.</p>
<p>Jadi, menghijaukan lingkungan dengan tanaman yang kita tanam merupakan sedekah dan amal jariyah bagi kita –walau telah meninggal- selama tanaman itu tumbuh atau berketurunan.</p>
<p>Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,</p>
<p>مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ</p>
<p>&#8220;Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya&#8221;. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab AL-Muzaro'ah (2320), dan Muslim dalam Kitab Al-Musaqoh (3950)]</p>
<p>Al-Imam Ibnu Baththol -rahimahullah- berkata saat mengomentari hadits ini, &#8220;Ini menunjukkan bahwa sedekah untuk semua jenis hewan dan makhluk bernyawa di dalamnya terdapat pahala&#8221;. [Lihat Syarh Ibnu Baththol (11/473)]</p>
<p>Seorang muslim yang menanam tanaman tak akan pernah rugi di sisi Allah -Azza wa Jalla-, sebab tanaman tersebut akan dirasakan manfaatnya oleh manusia dan hewan, bahkan bumi yang kita tempati. Tanaman yang pernah kita tanam lalu diambil oleh siapa saja, baik dengan jalan yang halal, maupun jalan haram, maka kita sebagai penanam tetap mendapatkan pahala, sebab tanaman yang diambil tersebut berubah menjadi sedekah bagi kita.</p>
<p>Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,</p>
<p>مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ</p>
<p>&#8220;Tak ada seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang dimakan dari tanaman itu akan menjadi sedekah baginya, dan yang dicuri akan menjadi sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya, maka sesuatu (yang dimakan) itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun yang dimakan oleh burung darinya, maka hal itu akan menjadi sedekah baginya. Tak ada seorangpun yang mengurangi, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya&#8221; . [HR. Muslim dalam Al-Musaqoh (3945)]</p>
<p>Al-Imam Abu Zakariyya Yahya Ibn Syarof An-Nawawiy -rahimahullah- berkata menjelaskan faedah-faedah dari hadits yang mulia ini, &#8220;Di dalam hadits-hadits ini terdapat keutamaan menanam pohon dan tanaman, bahwa pahala pelakunya akan terus berjalan (mengalir) selama pohon dan tanaman itu ada, serta sesuatu (bibit) yang lahir darinya sampai hari kiamat masih ada. Para ulama silang pendapat tentang pekerjaan yang paling baik dan paling afdhol. Ada yang berpendapat bahwa yang terbaik adalah perniagaan. Ada yang menyatakan bahwa yang terbaik adalah kerajinan tangan. Ada juga yang menyatakan bahwa yang terbaik adalah bercocok tanam. Inilah pendapat yang benar. Aku telah memaparkan penjelasannya di akhir bab Al-Ath’imah dari kitab Syarh Al-Muhadzdzab. Di dalam hadits-hadits ini terdapat keterangan bahwa pahala dan ganjaran di akhirat hanyalah khusus bagi kaum muslimin, dan bahwa seorang manusia akan diberi pahala atas sesuatu yang dicuri dari hartanya, atau dirusak oleh hewan, atau burung atau sejenisnya&#8221;. [Lihat Al-Minhaj (10/457) oleh An-Nawawiy, cet. Dar Al-Ma'rifah, 1420 H]</p>
<p>Pahala sedekah yang dijanjikan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam hadits-hadits ini akan diraih oleh orang yang menanam, walapun ia tidak meniatkan tanamannya yang diambil atau dirusak orang dan hewan sebagai sedekah.</p>
<p>Al-Hafizh Abdur Rahman Ibnu Rajab Al-Baghdadiy -rahimahullah- berkata, &#8220;Lahiriah hadits-hadits ini seluruhnya menunjukkan bahwa perkara-perkara ini merupakan sedekah yang akan diberi ganjaran pahala bagi orang yang menanamnya, tanpa perlu maksud dan niat&#8221;. [Lihat Iqozh Al-Himam Al-Muntaqo min Jami' Al-Ulum wa Al-Hikam (hal. 360) oleh Salim Al-Hilaliy, cet. Dar Ibn Al-Jauziy, 1419 H]</p>
<p>Penghijauan alias REBOISASI merupakan amalan sholeh yang mengandung banyak manfaat bagi manusia di dunia dan untuk membantu kemaslahatan akhirat manusia. Tanaman dan pohon yang ditanam oleh seorang muslim memiliki banyak manfaat, seperti pohon itu bisa menjadi naungan bagi manusia dan hewan yang lewat, buah dan daunnya terkadang bisa dimakan, batangnya bisa dibuat menjadi berbagai macam peralatan, akarnya bisa mencegah terjadinya erosi dan banjir, daunnya bisa menyejukkan pandangan bagi orang melihatnya, dan pohon juga bisa menjadi pelindung dari gangguan tiupan angin, membantu sanitasi lingkungan dalam mengurangi polusi udara, dan masih banyak lagi manfaat tanaman dan pohon yang tidak sempat kita sebutkan di lembaran sempit ini.</p>
<p>Jika demikian banyak manfaat dari REBOISASI alias penghijuan, maka tak heran jika agama kita memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan tanah dan menanaminya sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam hadits-hadits lainnya, seperti beliau pernah bersabda,</p>
<p>إِنْ قَامَتْ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ</p>
<p>&#8220;Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang diantara kalian terdapat bibit pohon korma; jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah&#8221;. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/183, 184, dan 191), Ath-Thoyalisiy dalam Al-Musnad (2068), dan Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (479). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 9)]</p>
<p>Ahli Hadits Abad ini, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- berkata saat memetik faedah dari hadits-hadits di atas, &#8220;Tak ada sesuatu (yakni, dalil) yang paling kuat menunjukkan anjuran bercocok tanam sebagaimana dalam hadits-hadits yang mulia ini, terlebih lagi hadits yang terakhir diantaranya, karena di dalamnya terdapat targhib (dorongan) besar untuk menggunakan kesempatan terakhir dari kehidupan seseorang dalam rangka menanam sesuatu yang dimanfaatkan oleh manusia setelah ia (si penanam) meninggal dunia. Maka pahalanya terus mengalir, dan dituliskan sebagai pahala baginya sampai hari kiamat&#8221;. [Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1/1/38)]</p>
<p>Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tidak mungkin memerintahkan suatu perkara kepada umatnya dalam kondisi yang genting dan sempit seperti itu, kecuali karena perkara itu amat penting, dan besar manfaatnya bagi seorang manusia. Semua ini menunjukkan tentang keutamaan &#8220;Go Green&#8221; alias program penghijauan yang digalakkan oleh pemerintah kita –semoga Allah memberikan balasan kebaikan bagi mereka-.</p>
<p>Saking besarnya manfaat dari penghijauan lingkungan alias REBOISASI, tanah yang dahulu kering kerontang bisa berubah menjadi tanah subur. Sungai yang dahulu gersang, dengan reboisasi bisa berubah menjadi berair.</p>
<p>Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda dalam sebuah yang shohih,</p>
<p>لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَعُودَ أَرْضُ الْعَرَبِ مُرُوجًا وَأَنْهَارًا</p>
<p>&#8220;Tak akan tegak hari kiamat sampai tanah Arab menjadi tanah subur, dan sungai-sungai&#8221;. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/370 &amp; 417), dan Muslim dalam Kitab Ash-Shodaqoh (2336)]</p>
<p>Ketika para sahabat mendengarkan hadits-hadits ini, maka mereka berlomba-lomba dan saling mendorong untuk melakukan program penghijauan ini, karena ingin mendapatkan keutamaan dari Allah -Azza wa Jalla- di dunia dan di akhirat berupa ganjaran pahala.</p>
<p>Para pembaca yang budiman, jika kita mau membuka sebagian kitab-kitab hadits yang berisi keterangan dan petunjuk jalan hidup para salaf (pendahulu) kita dari kalangan sahabat dan generasi setelahnya, maka kita akan mendapatkan manusia-manusia yang memiliki semangat dalam menggalakkan perintah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam perkara ini.</p>
<p>Seorang tabi’in yang bernama Umaroh bin Khuzaimah bin Tsabit Al-Anshoriy Al-Madaniy -rahimahullah- berkata,</p>
<p>سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُوْلُ لأَبِيْ : مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَغْرِسَ أَرْضَكَ ؟ فَقَالَ لَهُ أَبِيْ : أَنَا شَيْخٌ كَبِيْرٌ أَمُوْتُ غَدًا ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ : أَعْزِمْ عَلَيْكَ لَتَغْرِسَنَّهَا, فَلَقَدْ رَأَيْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَغْرِسُهَا بِيَدِهِ مَعَ أَبِيْ</p>
<p>&#8220;Aku pernah mendengarkan Umar bin Khoththob berkata kepada bapakku, &#8220;Apa yang menghalangi dirimu untuk menanami tanahmu?&#8221; Bapakku berkata kepada beliau, &#8220;Aku adalah orang yang sudah tua, akan mati besok&#8221;. Umar berkata kepadanya, &#8220;Aku mengharuskan engkau (menanamnya). Engkau harus menanamnya!&#8221; Sungguh aku melihat Umar bin Khoththob menanamnya dengan tangannya bersama bapakku&#8221;. [HR. Ibnu Jarir Ath-Thobariy sebagaimana dalam Ash-Shohihah (1/1/39)]</p>
<p>Al-Imam Al-Bukhoriy -rahimahullah- meriwayatkan sebuah atsar dari Nafi’ bin Ashim bahwa,</p>
<p>أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرٍو قَالَ لابْنِ أَخٍ لَهُ خَرَجَ مِنَ الْوَهْطِ : أَيَعْمَلُ عُمَّالُكَ ؟ قَالَ : لاَ أَدْرِيْ ، قَالَ : أَمَا لَوْ كُنْتَ ثَقَفِيًّا لَعَلِمْتَ مَا يَعْمَلُ عُمَّالُكَ ، ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيْنَا فَقَالَ : إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا عَمِلَ مَعَ عُمَّالِهِ فِيْ دَارِهِ – وَقَالَ أَبُوْ عَاصِمٍ مَرَّةً : فِيْ مَالِهِ – كَانَ عَامِلاً مِنْ عُمَّالِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ</p>
<p>&#8220;Dia pernah mendengar Abdullah bin Amer -radhiyallahu anhu- berkata kepada keponakannya yang telah keluar dari kebunnya, &#8220;Apakah para pekerjamu sedang bekerja?&#8221; Keponakannya berkata, &#8220;Aku tak tahu&#8221;. Beliau berkata, &#8220;Ingatlah, andaikan engkau adalah orang Tsaqif, maka engkau akan tahu tentang sesuatu yang dikerjakan oleh para pekerjamu&#8221;. Kemudian beliau menoleh kepada kami seraya beliau berkata, &#8220;Sesungguhnya seseorang bila bekerja bersama para pekerjanya di kampungnya atau hartanya, maka ia adalah pekerja diantara pekerja-pekerja Allah -Azza wa Jalla-&#8221;. [HR. Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (448). Syaikh Al-Albaniy men-shohih-kan hadits ini dalam Shohih Al-Adab (hal. 154)]</p>
<p>Amer bin Dinar -rahimahullah- berkata,</p>
<p>عَنْ عَمْرٍو قَالَ: دَخَلَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ فِيْ حَائِطٍ لَهُ بِالطَّائِفِ يُقَالُ لَهُ الْوَهْطُ, فِيْهِ أَلْفُ أَلْفِ خَشَبَةٍ اِشْتَرَى كُلَّ خَشَبَةٍ بِدِرْهَمٍ –يَعْنِيْ: يُقِيْمُ بِهِ اْلأَعْنَابَ- [أخرجه ابن عساكر في تاريخ دمشق - (ج 46 / ص 182)]</p>
<p>&#8220;Amer bin Al-Ash pernah masuk ke dalam suatu kebun miliknya di Tho’if yang dinamai dengan &#8220;Al-Wahthu&#8221;. Di dalamnya terdapat satu juta batang kayu. Beliau telah membeli setiap kayu dengan harga satu dirham. Maksudnya, beliau menegakkan dengannya batang-batang anggur&#8221;. [HR. Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (46/182)]</p>
<p>Para pembaca yang budiman, perhatikanlah sahabat Amer bin Al-Ash telah berani berkorban demi memelihara tanaman-tanaman yang terdapat dalam kebunnya. Semua ini menunjukkan kepada kita tentang semangat para sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam melaksanakan perintah dan anjuran beliau dalam menghijaukan lingkungan. Maka contohlah mereka dalam perkara ini, niscaya kalian mendapatkan keutamaan sebagaimana yang mereka dapatkan. Namun satu hal perlu kita ingat bahwa usaha dan program penghijauan seperti ini terpuji selama tidak melalaikan kita dari kewajiban, seperti jihad, sholat berjama’ah, mengurusi anak dan keluarga atau kewajiban-kewajiban lainnya. Jika melalaikan, maka hal itu tercela!!!</p>
<p>Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 121 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)</p>
<p>http://almakassari.com/artikel-islam/akhlak/go-green-sebuah-amal-jariyah.html</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abafadhlan.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abafadhlan.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abafadhlan.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abafadhlan.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abafadhlan.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abafadhlan.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abafadhlan.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abafadhlan.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abafadhlan.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abafadhlan.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abafadhlan.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abafadhlan.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abafadhlan.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abafadhlan.wordpress.com/181/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=181&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abafadhlan.wordpress.com/2010/02/13/go-green-sebuah-amal-jariyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4e082dd1dfeb37254d35b6cc9e1acba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abafadhlan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HUKUM SHALAT JAMA&#8217;AH KEDUA</title>
		<link>http://abafadhlan.wordpress.com/2010/02/12/hukum-shalat-jamaah-kedua/</link>
		<comments>http://abafadhlan.wordpress.com/2010/02/12/hukum-shalat-jamaah-kedua/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 06:52:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abafadhlan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abafadhlan.wordpress.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Al-Allamah -Al-Muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Bagian Pertama dari Dua Tulisan [1/2] Pertanyaan. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Bagaimana mendirikan shalat jama&#8217;ah kedua setelah dilakukan jama&#8217;ah di dalam satu masjid. Jawaban. Ulama fikih berbeda pendapat tentang hukum shalat jama&#8217;ah kedua. Sebelum aku menunjukkan perbedaan-perbedaan (pendapat) di antara mereka dan menjelaskan mana yang rajih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=179&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Oleh<br />
Al-Allamah -Al-Muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani<br />
Bagian Pertama dari Dua Tulisan [1/2]</p>
<p>Pertanyaan.<br />
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Bagaimana mendirikan shalat jama&#8217;ah kedua setelah dilakukan jama&#8217;ah di dalam satu masjid.</p>
<p>Jawaban.<br />
Ulama fikih berbeda pendapat tentang hukum shalat jama&#8217;ah kedua. Sebelum aku menunjukkan perbedaan-perbedaan (pendapat) di antara mereka dan menjelaskan mana yang rajih (unggul) dan marjuh (lemah), aku perlu membatasi (pengertian) jama&#8217;ah (kedua) yang diperselisihkan itu.</p>
<p>Permasalahan yang diperselisihkan adalah (shalat) jama&#8217;ah yang didirikan disatu masjid yang sebelumnya sudah didirikan oleh imam dan muadzdzin tetap (masjid tersebut).</p>
<p>Adapun jama&#8217;ah-jama&#8217;ah yang didirikan di tempat lain, seperti di rumah, di masjid jalanan, kompleks pertokoan tidak termasuk yang dipermasalahkan.</p>
<p>Ulama-ulama mengambil pendapat, bahwa mendirikan jama&#8217;ah untuk kedua kalinya dalam satu masjid yang ada imam dan mu&#8217;adzdzin rawatibnya hukumnya makruh, berdasar pengambilan dari dua sisi dalil.</p>
<p>[1] Dalil naqli (dari syara&#8217;)<br />
[2]Dalil nazhari meliputi periwayatan dan hikmah disyari&#8217;atkannya shalat berjama&#8217;ah.</p>
<p>Adapun berdasar dalil naqli : Setelah para ulama ahli hadits meneliti<br />
kehidupan Rasul Allah, mereka menemukan bahwa Rasul Allah sepanjang hidupnya senantiasa shalat berjama&#8217;ah bersama para sahabatnya di masjid beliau. Bila di antara para sahabatnya ada yang ketinggalan, tidak bisa shalat berjama&#8217;ah bersama rasul Allah di masjid, mereka shalat sendiri dan tidak menunggu siapa pun. Tidak menengok kanan-kiri, seperti dilakukan orang sekarang, meminta satu atau banyak orang untuk bersama shalat jama&#8217;ah dan salah seorang dari mereka dijadikan imam.</p>
<p>Demikian itu tidak pula diperbuat oleh orang-orang salaf (terdahulu). Bila mereka masuk masjid, ternyata sudah selesai didirikan shalat jama&#8217;ah, mereka shalat sendiri-sendiri. Begitulah yang dijelaskan oleh Iman Syafi&#8217;i dalam kitabnya Al-Um. Ungkapan Imam Syafi&#8217;i berkaitan dengan masalah ini lebih banyak dibanding ungkapan imam-imam lain.</p>
<p>Imam Syafi&#8217;i berkata.</p>
<p>&#8220;Artinya : Bila ada beberapa orang masuk masjid, lantas mendapati imam telah selesai shalat (jama&#8217;ah) lakukanlah shalat sendiri-sendiri. Bila mereka melakukan shalat berjama&#8217;ah sendiri (lagi) boleh saja. Tapi, aku tidak menyukai semacam itu. Karena hal itu bukan merupakan karakteristik salaf&#8221;</p>
<p>Kemudian Imam Syfai&#8217;i melanjutkan.</p>
<p>&#8220;Artinya : Adapun masjid yang ada di pinggir jalan (yang disediakan untuk para musafir) yang tidak punya imam dan muadzdzin tetap, maka melakukan (shalat) jama&#8217;ah berulang kali di dalam masjid tersebut tidak apa-apa&#8221;.</p>
<p>Imam Syafi&#8217;i berkata pula.</p>
<p>&#8220;Artinya : Aku telah hafal (beberapa riwayat), sesungguhnya ada sekelompok shahabat Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ketinggalan shalat berjama&#8217;ah.</p>
<p>Lantas merekapun shalat sendiri-sendiri. Padahal mereka mampu mendirikan shalat jama&#8217;ah lagi. Tapi, hal itu tidak dilakukannya, karena mereka tidak suka di satu masjid diadakan (shalat) jama&#8217;ah dua kali.</p>
<p>Semua ini merupakan ucapan Imam Syafi&#8217;i. Beliau menyebutkan, bahwa para<br />
shahabat apabila ketinggalan shalat berjama&#8217;ah (bersama Rasulullah) mereka shalat sendiri-sendiri. Begitulah disebutkan oleh Imam Syafi&#8217;i dengan riwayat muallaq (artinya Imam Syafi&#8217;i tidak langsung mendapatkan riwayat itu dari seorang rawi tapi rawinya menggantungkan riwayatnya). Al-Hafidzh Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah mengaitkannya dalam kitabnya yang masyhur Al-Mushannaf. Riwayatnya berdasarkan sanad yang kuat dari Hasan Al-Bashri, bahwa sesungguhnya para shahabat apabila ketinggalan shalat berjama&#8217;ah mereka shalat sendiri-sendiri.</p>
<p>Juga diriwayatkan Imam Ath-Thabari dalam kitabnya Mu&#8217;jam Al-Kabir dengan sanad yang bagus dari shahabt Ibnu Mas&#8217;ud. Yaitu suatu saat Ibnu Mas&#8217;ud bersama dua temanya keluar dari rumah menuju masjid untuk mengikuti shalat jama&#8217;ah. Saat itu ia melihat orang-orang keluar masjid, mereka sudah selesai melakukan shalat jama&#8217;ah. Maka Ibnu Mas&#8217;ud pun kembali ke rumah bersama dua temannya. Ia shalat berjama&#8217;ah bersama mereka di rumah sekaligus sebagai imam.</p>
<p>Ibnu Mas&#8217;ud kembali (ke rumah). Padahal keshahabatannya dengan Rasul Allah cukup dikenal, pemahaman tentang keislamannya mendalam, andai kata beliau tahu mendirikan jama&#8217;ah berulang-ulang kali di masjid itu diysrai&#8217;atkan, pasti beliau dengan kedua temannya itu masuk masjid dan mendirikan shalat berjama&#8217;ah di situ. Karena beliau jelas tahu bahwa Rasul Allah pernah bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya : Seutama-utama shalat seseorang itu dirumahnya kecuali shalat<br />
fardhu&#8221;.</p>
<p>Kemudian apa yang mencegah Ibnu Mas&#8217;ud melaksanakan shalat fardhu itu di masjid. ?</p>
<p>Jawabnya.<br />
Karena Ibnu Mas&#8217;ud tahu bahwa sesungguhnya abila melakukan shalat di masjid, beliau akan akan melakukannya secara sendiri-sendiri. Ibnu Mas&#8217;ud berpendapat, bahwa shalat berjama&#8217;ah di rumah bersama dengan dua temannya akan lebih utama dari pada shalat sendiri-sendiri meskipun dilakukan di masjid.</p>
<p>Semua ini merupakan kumpulan dalil-dalil naqli yang menguatkan pendapat<br />
jumhur (ulama) bahwa mengadakan jama&#8217;ah untuk kedua kalinya di satu masjid itu makruh hukumnya.</p>
<p>Kemudian para ulama itu pun tidak kehabisan jalan untuk mendapatkan dalil-dalil lain selain yang sudah dipaparkan. Misalnya, melalui lstimbath dan melihat secara tajam berkenaan dalil-dalil itu.</p>
<p>Imam Bukhari dan lmam Muslim meriwayatkan hadits dari shahabat Abu Hurairah, Rasul Allah bersabda:</p>
<p>&#8220;Aku memiliki kehendak untuk menyuruh seseorang menjadi imam shalat (di masjid), kemudian aku menyuruh beberapa lelaki untuk mengambil (mengumpulkan) kayu bakar dan aku keluar menuju ke rumah orang-orang yang tidak mengikuti shalat berjamaah di masjid. Maka, aku bakar rumahnya. Demi Zat yang jiwa Muhammad shalallahu &#8216;alaihi wa sallam berada di tangan-Nya, andaikata orang-orang ku mengetahui bahwa di dalam masjid itu akan ditemukan dua benda yang sangat berharga pasti mereka akan<br />
menyaksikannya pula&#8221;. (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Hadits ini merupakan ancaman dari Rasul Allah atas orang-orang yang suka menyelisihi terhadap kehadiran (untuk) shalat jamaah di masjid dengan cara membakar rumahnya. Saya (Al-Albani) melihat, bahwa hadits ini telah memberikan gambaran kepada kita tentang hokum permasalahan terdahulu (yaitu bahwa shalat berjamaah dua kali atau lebih dalam satu masjid yang ada imam dan mu&#8217;adzdzin tetapnya dihukumi makruh [dibenci]). Hadits ini bisa pula memberikan gambaran kepada saya untuk bisa menerima penuturuan<br />
lmam Syafi&#8217;i yang di-washalkan oleh lmam lbnu Abi Syaibah bahwa sesungguhnya para shahabat tidak mau mengulang shalat jamaah di dalam satu masjid. Hal demikian itu disebabkan, (andai) kita melakukan pembenaran bahwa shalat jamaah yang kedua atau yang ketiga itu disyariatkan (oleh agama) di dalam satu masjid, kemudian pada sisi lain ada ancaman yang sangat keras dari Rasul Allah bag! orang-orang yang meninggalkan shalat jamaah, maka (timbul pertanyaan, ed) shalat jamaah yang keberapa yang apabila ditinggalkan akan mendapat ancaman yang sangat berat sekali?</p>
<p>Apabila (pengandaian) ini dijawab dengan ucapan, &#8220;Shalat jamaah (yang apabila ditinggalkan itu mendapat ancaman sangat berat) adalah shalat jamaah yang pertama&#8221;.</p>
<p>Pengandaian ini juga bisa dilanjutkan dengan perkataan: &#8220;Kalau begitu, jamaah yang kedua dan lainnya tidak disyariatkan?&#8221; Kalau dijawab &#8220;Ancaman ini meliputi atau mencakup atas orang-orang yang meninggalkan jamaah, keberapa saja&#8221; maka jawapan itu bisa ditimpali: &#8220;Kalau begitu ancaman Rasul Allah tidak bisa dibuat hujjah untuk orang-orang yang tidak mengikut jamaah yang keberapa pun, kerana andai kata orang-orang yang tidak mengikuti jamaah itu didatangi secara mendadak, saat mereka tidak berangkat (ke masjid, ed) dan kita menemukan mereka sedang santai-santai saja dengan anak dan isteri dan apabila ditegur mengapa tidak mengikuti shalat jamaah? Maka, mereka akan menjawab: &#8220;Kami akan mengikuti jamaah yang kedua saia, atau yang ketiga saja.&#8221; Bila begitu, apakah ancaman Rasul Allah itu dibuat hujjah atas mereka? Oleh kerana itu bila Rasul Allah berkehendak mencari ganti seseorang yang menduduki kedudukan beliau (sebagai imam) dalam shalat berjamaah, lantas beliau mendatangi rumah-rumah orang yang meninggalkan shalat berjamaah untuk membakarnya merupakan dalil yang sangat besar sekall untuk mengatakan bahwa shalat jamaah kedua, ketiga kaii di satu masjid adalah tidak ada sama sekali.</p>
<p>Demikianlah bila dikaitkan dengan dalil-dalil naqli yang telah menjadi pedoman para ulama.</p>
<p>Adapun berkaitan dengan dalil nazhari, bisa dijelaskan sebagai berikut:</p>
<p>Keberadaan fadhilah (keutamaan) shalat berjamaah telah banyak dihadirkan melalui hadits-hadits yang masyhur, dan salah satu diantaranya:</p>
<p>&#8220;Shalat berjamaah dibandingkan shalat sendirian, keutamaannya dua puluh lima (datam satu riwayat dua puluh tujuh) derajat&#8221;.</p>
<p>Inilah keutamaan shalat berjamaah. *</p>
<p>Sebuah hadits lagi:<br />
&#8220;Sesungguhnya shalat seorang laki-laki (yang berjamaah) dengan seorang laki-laki lain. lebih bersih di sisi Allah daripada shalatnya (seseorang yang) sendirian. Dan shalatnya seorang laki-laki (yang berjamaah) bersama dengan dua orang laki-laki lebih bersih lagi di sisi Allah daripada shalat berjamaah dengan satu oang laki laki&#8221;</p>
<p>Dan begitu seterusnya, semakin banyak peserta jamaah smakin banyak pula pahala yang diterima.</p>
<p>Apabila kita mengingat makna (arti) ini (yaitu, makna kalimat dalam riwayat di atas, ed), kemudian kita melihat akibat dari penetapan kebolehan mengulangi kembali shalat jamaah di dalam satu masjid yang punya imam dan mu&#8217;adzdzin tetap, akibatnya sangat buruk sekali bila diukur dengan hukum Islam (yang telah kita paparkan sebelumnya), yaitu shalat jamaah hanya satu kali. Kerana berpendapat, bahwa shalat jamaah itu boleh didirikan berulang ulang di dalam satu masjid yang ada imam dan muadzdzin ratib (tetap) nya bisa mengarah pada sedikitnya jamaah peserta shalat jamaah yang pertama. Hal ini tentu bertentangan dengan ajakan yang bisa kita petik dari hadits:</p>
<p>&#8220;Shalat seorang laki-laki dengan laki-laki lain itu lebih bersih dari shalat seorang laki-laki yang sendirian saja&#8221;.</p>
<p>Karena hadits ini memotivasi agar jamaah bisa banyak pesertanya, begitu pula, pendapat yang membenarkan bolehnya mengulang (menyelenggarakan<br />
kembali) shalat jamaah di satu masjid,.niscaya bakal menciptakan kondisi peserta jamaah itu kecil, dan jelas sekali bakal memecah belah persatuan kaum muslimin.</p>
<p>Sekali lagi, kita dituntut melihat secara jernih, bahwa penyebutan harus mengingat hadits Ibnu Mas&#8217;ud (dalam shahih Muslim) semisal dengan hadits Abu Hurairah:</p>
<p>&#8220;Aku berkeinginan menyuruh seseorang untuk menjadi imam shalat<br />
di masjid&#8230; dan seterusnya&#8221;.</p>
<p>Hadits ini, (ashbabulwurudnya), berkenaan dengan orang-orang yang menyelisihi shalat Jum&#8217;at. Kita mengetahui bahwa lbnu Mas&#8217;ud melepaskan kata ancaman (mestinya berdasar ancaman Nabi, ed) terhadap setiap orang yang meninggalkan jamaah. Baik jamaah Jum&#8217;at atau jamaah lainnya. Kita pun mengetahui bahwa sesungguhnya shalat jamaah Jum&#8217;at dan shalat jamaah lainnya sama. Sama di dalam berjamaahnya dan ada ancamannya. Hal itu menunjukkan tidak ada jamaah untuk kedua kalinya bagi kedua shalat tersebut.</p>
<p>Untuk shalat Jum&#8217;at, sampai sekarang orang masih menjaga pesatuannya. Tidak ada yang berpendapat bahwa Jum&#8217;at itu secara syariat bisa dilaksanakan dua atau tiga kali di dalam satu masjid, dan semua ulama dari golongan (madzhab) manapun sepakat akan hal itu. Oleh itu, kita bisa melihat masjid-masjid itu penuh sesak dengan jamaah di hari Jum&#8217;at. Meskipun, kita juga tidak melupakan, dan ingat secara pasti, bahwa di antara sebab meluapnya masjid-masjid di saat jamaah Jum&#8217;at itu di antaranya kerana yang hadir bukan hanya yang biasa melakukan jamaah di masjid itu. Namun, kita pun tidak ragu pula bahwa penuhnya masjid pada hari Jum&#8217;at itu kerana orang Islam tidak membiasakan mendirikan shalat Jum&#8217;at lagi setelah shalat Jum&#8217;at pertama dilaksanakan. (alhamdulillah).</p>
<p>Jadi kalau umat Islam, misalnya mendirikan jamaah selain Jum&#8217;at sama persis dengan mendirikan jamaah Jum&#8217;at seperti pada zaman Rasulullah, kita pasti bias melihat bagaimana penuhnya masjid masjid itu dengan jamaahnya. Oleh kerana orang-orang yang rindu akan shalat berjamaah, di dalam hatinya tidak ingin ia ketinggalan jamaah, lantaran tidak mungkin ia bias mendirikan jamaah baru. Kemudian semacam ini bias mendorong mereka untuk betul-betul melaksanakan jamaah tepat waktu dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>Sebaliknya, (tidak dimilikinya keyakinan seperti ini) jiwa seorang muslim akan menganggap ringan bila ia ketinggalan jamaah, kerana ia pun akan bisa menutup dengan jamaah yang kedua, ketiga sampai kesepuluh misalnya. Cara pandang demikian itu akan melemahkan kehendak dan semangat diri untuk mnghadiri jamaah.</p>
<p>Dan Pembahasan Berikutnya:</p>
<p>Pertama.<br />
Kita perlu memperjelas bahwa para ulama yang berpendapat tidak disyariatkannya jamaah kedua, seperti yang telah diterangkan di awal artikel ini, dan andai terpaksa dilakukan hukumnya makruh, adalah jumhur para imam salaf, termasuk di datamnya Imam Abu Hanifah, Imam Madik dan lmam Syafi&#8217;i. Adapun lmam Ahmad dalam salah satu riwayat dan dalam riwayat lain yang dibawa oleh seorang muridnya yang bemama Abu Dawud As-Sijistani di dalam kitabnya Masa-il al-lmam Ahmad, Imam Ahmad berkata:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya mengulang jamaah di dalam dua masjid al-Haramain (masjid at-haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah) hukumnya sangat makruh (dibencl)&#8221;.</p>
<p>Hal ini dilihat dari keutamaan. (Maksudnya, ucapan Imam Ahmad di bahagian awal artikel ini memberikan gambaran kepada kita), bahawa kemakruhan jamaah ulang di masjid-masjid lain juga ada. Tapi, kemakruhan itu bisa lebih berat apabila jamaah ulang itu dilakukan di masjid Makkah ataupun Madinah. Jadi riwayat dari lmam Ahmad ini bisa bertemu (sama) pula dengan pendapat para imam yang tiga: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Syafi&#8217;i.</p>
<p>Kedua.<br />
Ada riwayat lain dari Imam Ahmad, yang riwayat ini masyhur di kalangan pengikutnya, pada intinya lmam Ahmad.dan pengikut-pengikutnya daripada ahli tafsir membawakan hadits yang diriwayatkan oleh lmam Tirmidzi, lmam Ahmad sendiri dan lain-lainnya dari kalangan shahabat Abu Sa&#8217;id al-Khudri:</p>
<p>&#8220;Ada seorang lelaki masuk masjid dan Rasul Allah sudah selesai berjamaah shalat. Di sekitar Rasul waktu itu masih ada beberapa shahabat. Maka, Rasul Allah melihat lelaki itu akan melakukan shalat sendiri. Kemudian Rasul Allah bersabda, Adakah seseorang yang bisa bersedekah kepadanya ?&#8221;.<br />
Kemudian ada seorang laki-laki berdiri, lantas shalat bersamanya. Maka (seseorang itupun) shalat bersamanya&#8221;</p>
<p>Dalam satu riwayat yang dibawakan oleh lmam Abu Bakar al-Baihaqi datam kitab Sunan al-Kubra menjelaskan, bahawa laki-laki yang bersedekah dimaksud adalah shahabat Abu Bakar. Tetapi, riwayat ini dhaif sanadnya. Adapun yang shahih adalah riwayat yang tidak menyebutkan nama laki-laki dimaksud.</p>
<p>Kemudian ada yang berhujjah dengan hadits ini bahwa jamaah kedua (ketiga dan seterusnya) boleh dengan alasan: &#8220;Rasul Allah telah setuju adanya jamaah kedua.</p>
<p>Jawaban terhadap pendapat ini, yang berdalil dengan hadits di atas dalah: &#8216;Kita harus memperhatikan bahawa jamaah yang diterangkan dalam hadits itu bukan jamaah yang kita persoalkan. Karena, jamaah yang termuat di dalam hadits itu jamaahnya seorang yang masuk masjid setelah masjid itu selesai digunakan untuk shalat jamaah. Dan lagi, orang itu pun akan melakukan shalat sendiri. Setelah Rasul Allah melihat yang demikian itu, Rasul Allah meminta para shahabat di dekatnya yang sudah shalat berjamaah bersama beliau kiranya ada yang mau bersedekah untuknya. Kemudian ada yang bangkit menuruti perintah Rasul, dan dia<br />
melakukan shalat nafilah (sunnah).</p>
<p>Begitu yang terjadi. ltu merupakan jamaah yang terdiri dari dua orang, satu imam dan satu makmum. Imam melakukan shalat fardhu dan yang makmum melakukan shalat sunnah. Maka, siapakah yang berkeyakinan bahwa hal ini jamaah? Seandainya tidak ada yang bershalat sunnah, tentu tak akan ada jamaah. Kalau begitu, jamaah semacam itu namanya berjamaah tathawwu&#8217; dan tanafful, bukan jamaah (shalat) fardhu. Padahal perselisihan pendapat tentang jamaah ini, persoalannya berputar pada jamaah shalat fardhu yang dilakukan jamaah, persoalannya berputar pada jamaah shalat fardhu yang dilakukan untuk kedua kalinya di satu masjid (yang ada imam ratibnya dan mu&#8217;adzdzin). Oteh kerana itu mengambil dalil dengan hadits Abi Sa&#8217;id dan ditempatkan dalam kerangkan perselisihan tentu tidak bisa dibenarkan. Apalagi bila dikuatkan dengan kalimat hadits:</p>
<p>&#8220;Adakah seseorang yang mau bersedekah kepadanya ? Maka, (sesearang itupun) shalat bersamanya&#8221;.</p>
<p>Kejadian ini terjadi karena adanya orang yang bersedekah dan yang disedekahi. Seandainya kita tanyakan kepada orang yang sangat sedikit pemahaman dan ilmunya, siapa (dari dua orang ini) yang bersedekah dan yang disedekahi dalam peristiwa ini?</p>
<p>Maka, jawabnya pasti orang yang besedekah ialah orang yang melakukan shalat lagi, yang sebelumnya sudah shalat berjamaah dibelakang Rasuluilah, dan orang yang disedekahi adalah orang yang datang belakangan sehabis jamaah Rasulullah.</p>
<p>Pertanyaannya itu sendiri apabila kita lemparkan ke dalam masalah jamaah yang diperselisihkan kebolehannya, (misalnya) ada enam atau tujuh orang masuk masjid secara bersamaan dan menemukan imam sudah selesai melakukan jamaah shalat. Kemudian salah satu dari mereka maju ke depan (untuk menjadi imam sedang lainnya di belakang mengatur diri dalam posisi makmum), dan mereka mendirikan jamaah kedua.</p>
<p>Pertanyaan, siapa di antara mereka yang bersedekah dan siapa pula yang disedekahi?</p>
<p>Pertanyaan ini tidak akan mampu dijawab oleh siapa pun, sebagaimana menjawab (contoh) pertanyaan pertama. Jamaah shalat yang ini dilakukan setelah imam dan makmum di masjid itu selesai melakukan shalat jamaah<br />
fardhu. Jadi, dalam hal ini tidak ada yang bersedekah dan tidak ada pula yang disedekahi.</p>
<p>Bedanya jelas sekali. Dalam contoh pertama, orang yang bersedekah adalah laki-laki yang (shalat) nafilah (sunnah) yang sudah shalat bersama Rasul Allah yang tentunya mendapatkan nilai tambah (pahala) sebanyak dua puluh tujuh derajat. Jadi dia bisa disebut orang kaya. Kerana kemampuannya pula dia bisa bersedekah kepada orang lain dan kepada yang menjadi imam (melalui shalat sunnah dengan bermakmum di belakang orang yang shalat sendirian). Kalau tidak begitu, orang itu akan shalat sendiri. Dia miskin, dan dia memerlukan orang yang bisa memberi sedekah padanya. Sebab, dia tidak bisa mengupayakan orang yang bisa memberi sedekah.</p>
<p>Dalam contoh ini, jelas ada orang yang memberi sedekah dan ada yang diberi sedekah. Adapun yang kita perselisihkan tidak demikian. Rombongan yang dating setelah selesai jamaah shalat di masjid, semuanya<br />
fakir, semuanya ketinggalan jamaah pertama (bersama imam). Jadi kalau kita bersandar dengan:</p>
<p>&#8220;Adakah seseorang yang mau bersedekah kepadanya. Maka (seseorang itu pun) shalat bersamanya&#8221;.</p>
<p>Hal itu tidak bisa tepat. Perumpamaan ini tidak sah untuk dijadikan dalil bagi peristiwa kedua (yaitu, bagi serombongan orang melakukan shalat jamaah kedua).</p>
<p>Sisi pengambilan dalil lainnya yang mereka bawakan adalah sabda beliau:</p>
<p>&#8220;Shalat berjamaah dibanding shalat sendiri, keutamaannya dua puluh tujuh derajat&#8221;.</p>
<p>Mereka mengambil dalil ini, berdasarkan pemahaman bahawa al pada kalimat al-Jamaah adalah li as-syumul (bagi keseluruhan). Artinya, bahwa semua shalat jamaah (baik pertama, kedua, ketiga dan seterusnya, ed) di dalam satu masjid memperoleh keutamaan bila dibandingkan shalat sendirian.</p>
<p>(Untuk mengomentari itu) kami akan mengatakan berdasarkan dalil terdahulu: Sesungguhnya al di sini bukan untuk keseluruhan, akan tetapi al dimaksud adalah li al-&#8217;ahdi (untuk penunjukan). Maksudnya, menunjuk kepada shalat jamaah sebagaimana disyariatkan Rasul Allah yang semua manusia dihasung kepadanya. (Bahkan), beliau mengancam orang-orang yang meninggalkannya dengan ancaman akan membakar rumah-rumah mereka dan Rasul Allah juga memberikan sifat kepada orang-orang yang meninggalkannya dengan sebutan munafiqin. Adalah shalat jamaah yang memiliki keutamaan dibanding shalat sendiri, yaitu shalat jamaah yang pertama. Wallahu Ta&#8217;ala a&#8217;lam.</p>
<p>[Disalin dari buku HUKUM SHALAT JAMA'AH KEDUA, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Penerbit Yayasan Al-Madinah]<br />
<em>Sumber mail-list : Salafi-Indonesia@yahoogroups.com</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abafadhlan.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abafadhlan.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abafadhlan.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abafadhlan.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abafadhlan.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abafadhlan.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abafadhlan.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abafadhlan.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abafadhlan.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abafadhlan.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abafadhlan.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abafadhlan.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abafadhlan.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abafadhlan.wordpress.com/179/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=179&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abafadhlan.wordpress.com/2010/02/12/hukum-shalat-jamaah-kedua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4e082dd1dfeb37254d35b6cc9e1acba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abafadhlan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>-Dewi Fortuna Tidak Bersama Kita- Dalam Tinjauan Islam</title>
		<link>http://abafadhlan.wordpress.com/2010/02/08/dewi-fortuna-tidak-bersama-kita-dalam-tinjauan-islam/</link>
		<comments>http://abafadhlan.wordpress.com/2010/02/08/dewi-fortuna-tidak-bersama-kita-dalam-tinjauan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 00:51:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abafadhlan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abafadhlan.wordpress.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Al Ustadz Abu Ibrohim Abdulloh Bin Mudakir Al-Jakarty Pembaca yang budiman&#8230;.. Mungkin di antara kita pernah mendengar atau sering mendengar salah seorang berkata “dewi fortuna tidak bersama kita”, perkataan yang singkat tapi tidak sesingkat hukum dan konsekuensinya. Insya Alloh pasa tulisan sederhana ini akan dijelaskan tentang sangat berbahanya perkataan ini bagi aqidah seseorang. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=167&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Penulis : Al Ustadz Abu Ibrohim Abdulloh Bin Mudakir Al-Jakarty</p>
<p style="text-align:justify;">Pembaca yang budiman&#8230;..<br />
Mungkin di antara kita pernah mendengar atau sering mendengar salah seorang berkata “<strong>dewi fortuna tidak bersama kita</strong>”, perkataan yang singkat tapi tidak sesingkat hukum dan konsekuensinya. Insya Alloh pasa tulisan sederhana ini akan dijelaskan tentang sangat berbahanya perkataan ini bagi aqidah seseorang.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada sebuah hadist -semoga menjadi renungan kita bersama-, yang diriwayatakan dari Abu Hurairoh radiyallohu &#8216;anhu, dia berkata : “<em>Saya mendengar Rosululloh shollallohu &#8216;alaihi wassalam bersabda: “Seorang hamba berbicara dengan suatau kalimat yang tidak ada kejelasan di dalamnya bisa membuatnya terperosok masuk ke dalam neraka yang jaraknya antara timur dan barat</em>”(HR. Bukhori dan Muslim).</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara bentuk ucapan yang sangat berbahaya adalah ucapan “d<strong>ewi fortuna tidak bersama kita</strong>”, perkataan ini sangatlah berbahaya karena adanlya unsur kesyirikan di dalamnya sehingga bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam, Na&#8217;udzubillah &#8230;.!</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin ada yang bertanya dari sisi mana dikatakan perkataan kesyirikan&#8230;?<br />
Maka kita katakan : Semoga Alloh memberi kepada kita pemahaman terhadap agama ini. <span style="text-decoration:underline;">Dikarenakan perkataan “<strong>dewi fortuna tidak bersama kita</strong>”ini merupakan penyandaran kepada selain Alloh di dalam memberikan manfaat atau keberuntungan. Bukankah yang memberi manfaat   atau keberuntungan dan yang menolak kemudhorotan atau bahaya hanyalah Alloh semata&#8230;.!! bukankah hal ini kekhususan rububiyah 1)  Alloh saja&#8230;.!</span>!</p>
<p style="text-align:justify;">Bukankah Alloh telah berfirman menjelaskan tentang hal tersebut? Artinya : “ <em>Dan jika Alloh menimpakan sesuatu kemudhorotan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Alloh menghendaki kebaikan bagi kamu maka tak ada yang dapat menolak karuniaNya</em>.” (QS. Yunus:107). Artinya : D<em>an jika Dia mendatangkan kebaikkan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu </em>(QS. Al – An&#8217;am: 18).</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau yang memberikan manfaat atau keberuntungan dan menolak mudhorot atau bahaya hanyalah Alloh, yang mana hal ini merupakan kekhususan Rububiyah Alloh, maka menyandarkan kepada selain Alloh termasuk perbuatan syirik. Bahkan akan terjatuh ke dalam perbuatan syirik akbar (yang besar) yang apat mengeluarkan pelakunya dari Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Marilah kita simak perkataan Syaikh Sholeh Al-Fauzan dan Imam Syaukani. Berkata Syaikh Sholeh Al-Fauzan hafidzahulloh : “<em>Syirik adalah menjadikan sekutu (atau tandingan) bagi Alloh di dalam Rububiyyah dan UluhiyyahNya2)”</em> (Aqidah Tauhid : 18). Berkata Imam Syaukani Rahimahulloh : “<em>Bahkan syirik adalah mempersembahkan untuk selain Alloh sesuatu yang merupakan kekhususan bagi-Nya</em>” (Daurun Nadid Fi Kalimatil Ikhlas : 18).</p>
<p style="text-align:justify;">Maka akan jelaslah bagi kita dari penjelasan di atas bahwa menyandarkan keberuntungan kepada “<strong>dewi fortuna</strong>” <span style="text-decoration:underline;">termasuk perbuatan syirik bahkan syirik dalam rububiyah-Nya, yang lebih asyad (buruk) adalah syirik dalam Uluhiyyah.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Bukankah Alloh berfirman tentang bahayanya perbuatan syirik yang seharusnya kita berhati-hati adar tidak terjatuh ke dalamnya. Artinya : “ <em>Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni (dosa) syirik, dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang yang Dia kehendaki. Barang siapa yang mempersekutukanAlloh, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar</em>”. (QS. An-nisa : 48). Artinya : “<em>Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka sungguh Alloh telah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penoloongpunbagi orang-orang dzolim itu</em>”.(QS. Al Maidah : 72). Masih bannyak lagi ayat yang menjelaskan tentang berbuat syirik banyak sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin ada yang berkata bukankah orang yang berkata seperti  itu hanya berkata semata (bersenda gurau) tanpa ada keyakinan dan bermaksud menyandarkan manfaat dan keberuntungan kepada selain Alloh&#8230;??? Maka kita katakan : “<em>kesyirikan dan kekufuran itu tidak hanya dilakukan dengan disertai keyakinan dari perkara perkara syirik atau kekafiran. Ucapan lisan kita semata bisa termasuk perbuatan kesyirikan dan kekufuran tanpa dibarengi keyakinan, begitu juga perbuatan kita. </em>Bukankah Alloh berfirman, yang artinya<em> : “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau” dan bermain-main saja. Katakanlah, “Mengapa kepada Alloh dan ayat-ayatNya serta RasulNya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kalian talah kafir setealah beriman”. (QS. At-Taubah : 65-66).</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
Berkata Syaikh Sholeh Al Fauzan Hafidzahulloh : “ Ayat ini menunjukkan bersamaan apa yang setelahnya atas kafirnya orang yang bersenda gurau dengan sesuatu yang di dalamnya terdapat penyebutan Alloh atau RosulNya atau Al-Qur&#8217;an</em>” (Mulakhos Syarh Kitab Tauhid : 348).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mungkin ada yang bertanya dimana inti pembicaraan kitapada ayat ini&#8230;.???</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maka kita katakan : “<em>Bukankah orang yang bersenda gurau yang dijelaskan ayat ini tidak bermaksud mencela Alloh dan RosulNya apalagi meyakini isi yang terkandung dari senda gurau tersebut</em>&#8230;.!!”</p>
<p style="text-align:justify;">Berkata Syaikh Sholeh Al Fauzan Hafidzahulloh pada kalimat (kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja)”. Kami tidak bermaksud untuk mencela dan mendustakan, dan yang kami maksudkan bersenda gurau dalam kekosongan dan bermain-main”(Mulakhos Syarh Kitab Tauhid : 348). Bukankah mereka sekedar bersenda gurau dengan lisannya tanpa memaksudkan apalagi meyakini celaan terhadap Alloh dan RosulNya yang terkandung dalam celaan tersebut, tapi apa yang  Alloh katakan : Artinya : <em>&#8220;Mengapa kepada Alloh dan ayat-ayatNya serta RasulNya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kalian talah kafir setealah beriman</em>”. (QS. At-Taubah : 65-66). Lihatlah pada ayat ini, Alloh menghukumi sebagai orang kafir kepada orang yang berkata dengan perkataan kekufuran (bersenda gurau dalam masalah agama) walaupun dia tidak memaksudkan mencela Alloh dan RosulNya apalagi meyakini ucapan tersebut&#8230;.!!!</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu wajib bagi kita wahai saudaraku untuk menjaga lisan-lisan kita, peruatan-perbuatan kita dari hal-hal yang membahayakn bagi agama dan dunia kita, dan di antara perkataan yang membahayakan agama dan aqidah kita adalah perkataan “<strong>dewi fortuna tidak bersama kita</strong>” karena perkataan ini perkataan syirik sebagaimana telah dijelaskan di atas.<br />
Wallohu a&#8217;lam bish showab.<br />
____________<br />
End Note<br />
1)	Rububiyyah Alloh adalah mengesakan Alloh di dalam penciptaan, pengaturan alam semesta, memberikan rizki, dan memberikan manfaat serta menolak bahaya. Barang siapa yang menyekutukan Alloh pada perkata ini maka dia telah melakukan kesyirikan di dalam rububiyyh-Nya.<br />
2)	Adapun kesyirikan di dalam uluhiyyah Alloh adalah menduakan Alloh pada segala macam bentuk ibadah yang mana ibadah adalah khusus hanya untuk Alloh semata dan tidak boleh dipalingkan kepada selain-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Sumber: Buletin At-Tauhid Edisi 9 Tangerang</em></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abafadhlan.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abafadhlan.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abafadhlan.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abafadhlan.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abafadhlan.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abafadhlan.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abafadhlan.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abafadhlan.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abafadhlan.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abafadhlan.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abafadhlan.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abafadhlan.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abafadhlan.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abafadhlan.wordpress.com/167/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=167&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abafadhlan.wordpress.com/2010/02/08/dewi-fortuna-tidak-bersama-kita-dalam-tinjauan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4e082dd1dfeb37254d35b6cc9e1acba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abafadhlan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dzulhijjah, Bulan Mulia Penuh Ibadah</title>
		<link>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/11/13/dzulhijjah-bulan-mulia-penuh-ibadah/</link>
		<comments>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/11/13/dzulhijjah-bulan-mulia-penuh-ibadah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 00:54:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abafadhlan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abafadhlan.wordpress.com/2009/11/13/dzulhijjah-bulan-mulia-penuh-ibadah/</guid>
		<description><![CDATA[Penjelasan Ringkas tentang 10 Hari Pertama Dzulhijjah, Qur’ban, dan Hari Raya ‘Idul ‘Adh-ha Penulis : Fadhilatusy Syaikh Al-’Allamah Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على سيد المرسلين .. وبعد : Sesungguhnya di antara keutamaan dan karunia yang Allah berikan kepada makhluk-Nya adalah dijadikannya musim (masa-masa tertentu) bagi hamba-hamba-Nya yang shalih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=162&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">
<table cellspacing="0" cellpadding="0" border="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<p>Penjelasan Ringkas tentang             <br />10 Hari Pertama Dzulhijjah, Qur’ban, dan Hari Raya ‘Idul ‘Adh-ha              <br />Penulis : Fadhilatusy Syaikh Al-’Allamah Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah              <br />الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على سيد المرسلين .. وبعد :              <br />Sesungguhnya di antara keutamaan dan karunia yang Allah berikan kepada makhluk-Nya adalah dijadikannya musim (masa-masa tertentu) bagi hamba-hamba-Nya yang shalih untuk memperbanyak amal shalih di dalamnya. Di antara musim (masa-masa) tersebut adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. <span id="more-162"></span>             <br />Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah              <br />1.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Allah Ta’ala berfirman:              <br />وَالفَجرِ وَلَيَالٍ عَشرٍ.              <br />“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (Al-Fajr: 1-2)              <br />Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Ibnu Az-Zubair, Mujahid, dan yang lainnya. Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari.”              <br />2.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:              <br />ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر. قالوا: ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجلٌ خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء.              <br />“Tidak ada hari-hari di mana amalan shalih yang dikerjakan di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari ini. Para shahabat bertanya: Termasuk pula jihad fi sabilillah? Beliau bersabda: Ya, termasuk pula jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya dan tidak kembali darinya sedikit pun.” (HR. Al-Bukhari, Abu Dawud, At-Tirmidzi. Lafazh ini adalah lafazh Abu Dawud)              <br />3.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Allah ta’ala berfirman:              <br />وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ.              <br />“Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” (Al Hajj: 28)              <br />Ibnu ‘Abbas berkata: “(Yakni) sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.” (Tafsir Ibni Katsir).              <br />4.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:              <br />ما من أيام أعظم عند الله سبحانه ولا أحب إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر؛ فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد.              <br />“Tidak ada hari yang lebih agung dan lebih dicintai di sisi Allah subhanahu wata’ala jika amalan shalih dikerjakan di dalamnya daripada sepuluh hari ini, maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid pada hari-hari tersebut.” (HR. Ahmad)              <br />5.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Sa’id bin Jubair rahimahullah -dan beliau yang meriwayatkan hadits Ibnu ‘Abbas (poin no. 2) di atas- ketika telah memasuki sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, beliau sangat bersungguh-sungguh untuk beribadah sampai-sampai hampir beliau tidak mampu untuk mengerjakannya. (HR. Ad-Darimi)              <br />6.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Ibnu Hajar dalam Fathul Bari berkata: “Dan yang tampak dari sebab diistimewakannya sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah karena waktu tersebut merupakan tempat berkumpulnya (dan ditunaikannya) induk dari berbagai macam ibadah, yaitu shalat, puasa, shadaqah, dan haji. Itu semua tidak terjadi pada waktu yang lain.”              <br />Amalan Yang Disunnahkan              <br />Untuk Dikerjakan Pada 10 Hari Pertama Dzulhijjah              <br />1. Shalat              <br />Disunnahkan untuk bersegera menunaikan (shalat) fardhu dan memperbanyak yang sunnah, karena ini adalah termasuk amalan yang paling afdhal untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:              <br />عليك بكثرة السجود لله، فإنك لا تسجد لله سجدة إلا رفعك الله بها درجة، وحطَّ عنك بها خطيئة.              <br />“Wajib atas kamu untuk memperbanyak sujud kepada Allah, karena seseunnguhnya tidaklah kamu bersujud kepada Allah sekali saja melainkan Allah akan mengangkat satu derajatmu dan Allah akan menghapus satu kesalahan darimu.” (HR. Muslim).              <br />Dan ini (bersujud) mencakup semua waktu, kapan pun dilaksanakan.              <br />2. Puasa              <br />Karena puasa termasuk dalam keumuman amal shalih (yang disunnahkan untuk diperbanyak pada hari-hari itu). Dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata:              <br />كان رسول الله يصوم تسع ذي الحجة، ويوم عاشوراء، وثلاثة أيام من كل شهر.              <br />“Dahulu Rasulullah berpuasa pada hari kesembilan bulan Dzulhijjah, dan hari ‘asyura’ (tanggal sepuluh Muharram), dan tiga hari pada setiap bulannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan An Nasa’i).              <br />Al-Imam An-Nawawi mengatakan tentang puasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah bahwa itu adalah amalan yang sangat disenangi (disunnahkan).              <br />3. Takbir, Tahlil, Tahmid              <br />Berdasarkan hadits dari Ibnu ‘Umar yang telah disebutkan di atas:              <br />فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد.              <br />“Maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid pada hari-hari tersebut.”              <br />Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata: “Ðahulu Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma keluar menuju pasar pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan bertakbir, kemudian orang-orang pun juga ikut bertakbir ketika mendengar takbir keduanya.”              <br />Beliau (Al-Imam Al-Bukhari) juga berkata: “Dan ‘Umar dahulu bertakbir di kubahnya di Mina, maka kemudian orang-orang yang berada di dalam masjid mendengarnya dan mereka pun ikut bertakbir, dan orang-orang yang berada di pasar pun juga ikut bertakbir sampai-sampai Mina bergetar disebabkan suara takbir mereka.”              <br />Dan Ibnu ‘Umar dahulu bertakbir di Mina pada hari-hari tersebut, dan juga bertakbir setiap selesai mengerjakan shalat, bertakbir ketika berada di atas ranjangnya, di dalam kemahnya, di majelisnya, dan di setiap perjalanannya pada hari-hari tersebut.              <br />Dan disenangi (disunnahkan) untuk mengeraskan bacaan takbir sebagaimana yang dilakukan Umar, anaknya (yakni Ibnu ‘Umar), dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum.              <br />Sudah sepantasnya bagi kita kaum muslimin untuk menghidupkan kembali sunnah tersebut yang sudah hilang pada zaman ini dan hampir dilupakan bahkan oleh ahlu ash shalah wal khair (orang-orang yang memiliki kebaikan dan keutamaan) sekalipun. Dan yang memprihatinkan adalah apa yang terjadi sekarang justru menyelisihi amaliyah yang biasa dilakukan as salafush shalih.              <br />Lafazh Takbir              <br />Ada tiga lafazh,              <br />Pertama :              <br />الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر كبيراً.              <br />Kedua :              <br />الله أكبر. الله أكبر. لا إله إلا الله. والله أكبر. الله أكبر ولله الحمد.              <br />Ketiga :              <br />الله أكبر. الله أكبر. الله أكبر. لا إله إلا الله. والله أكبر. الله أكبر. الله أكبر ولله الحمد.              <br />4. Puasa hari Arafah              <br />Puasa pada hari Arafah sangat ditekankan berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tentang puasa hari Arafah:              <br />أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والسنة التي بعده.              <br />“Aku berharap kepada Allah untuk menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya.” (HR. Muslim).              <br />Beliau juga bersabda ketika ditanya tentang puasa ‘Arafah :              <br />يكفر السنة الماضية والباقية              <br />“(Puasa Arafah tersebut) menghapuskan dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang.” (HR. Muslim)              <br />Akan tetapi barangsiapa yang berada di Arafah -yakni sedang beribadah haji-, maka tidak disunnahkan baginya berpuasa karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan wuquf di Arafah dalam keadaan berbuka (tidak berpuasa).              <br />Keutamaan Hari Nahr [1]              <br />Kebanyakan kaum muslimin melalaikan hari ini, kebanyakan kaum mukminin pun lalai dari kemuliaan dan keutamaannya yang sangat besar, banyak, dan melimpah pada hari tersebut. Demikianlah, padahal sebagian ‘ulama berpendapat bahwa hari itu adalah hari yang paling afdhal (utama) dalam setahun secara mutlak termasuk juga (lebih afdhal daripada) hari Arafah.              <br />Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Sebaik-baik hari di sisi Allah adalah hari Nahr, dan dia adalah hari Haji Akbar.”              <br />Sebagaimana yang disebutkan dalam Sunan Abi Dawud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:              <br />إن أعظم الأيام عند الله يوم النحر، ثم يوم القرِّ.              <br />“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari Nahr, kemudian hari Al Qarr.”              <br />Hari Al Qarr adalah hari ketika berada di Mina, yaitu hari ke-11 (bulan Dzulhijjah).              <br />Pendapat lain mengatakan bahwa hari Arafah afdhal (lebih utama) daripada hari Nahr, karena puasa yang dikerjakan pada hari itu akan menghapus kesalahan yang dilakukan selama dua tahun (setahun sebelumnya dan setahun setelahnya), dan tidak ada hari yang Allah membebaskan hamba dari Neraka lebih banyak daripada pada hari Arafah, dan juga karena Allah subhanahu wata’ala akan mendekat kepada hamba-hamba-Nya pada hari itu kemudian Allah akan membanggakan orang-orang yang wuquf di hadapan para malaikat.              <br />Yang benar adalah pendapat pertama, karena hadits yang menunjukkan hal tersebut tidak ada satu dalil pun yang menyelisihinya.              <br />Sama saja apakah yang afdhal (lebih utama) itu hari Nahr atau hari Arafah, maka setiap muslim hendaknya bersemangat, baik dia sedang berhaji maupun sedang mukim (tidak berhaji) untuk meraih keutamaannya dan memanfaatkan kesempatan pada hari itu (untuk banyak melakukan amalan kebajikan).              <br />Bagaimana Menyambut Musim (masa-masa) yang Penuh Kebaikan?              <br />1.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk menyambut setiap musim (masa-masa) yang penuh kebaikan dengan taubat yang jujur dan sebenar-benarnya, dengan meninggalkan segala bentuk perbuatan dosa dan maksiat karena sesungguhnya dosa-dosa itu akan menyebabkan seseorang diharamkan dari keutamaan Rabbnya dan akan menghalangi hati dari Penolongnya (Allah ta’ala).              <br />2.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Demikian pula hendaknya musim (masa-masa) yang penuh kebaikan itu disambut dengan tekad yang jujur dan kesungguhan untuk memanfaatkan masa tersebut dengan menjalankan amalan yang bisa mendatangkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla. Barangsiapa yang jujur kepada Allah, maka Allah akan membenarkannya.              <br />وَالَّذِينَ جَاهَدُواْ فِينَا لَنَهدِيَنَّهُمّ سُبُلَنَا.              <br />Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. (Al-’Ankabut: 69)              <br />Wahai saudaraku muslim, bersemangatlah untuk memanfaatkan kesempatan ini sebelum lewat darimu, yang akan menyebabkan kamu menyesal, tidak ada waktu untuk menyesal. Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kepadaku dan kepada kamu untuk bisa memanfaatkan musim (masa-masa) yang penuh kebaikan ini, dan kami memohon kepada-Nya pertolongan agar bisa menjalankan ketaatan dan bagusnya ibadah kepada-Nya pada masa tersebut.              <br />Sekelumit Hukum-Hukum terkait dengan Al-Udh-hiyah (Qurban) dan Pensyari’atannya              <br />Al-Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari-hari Adh-ha disebabkan adanya ‘Id (Hari Raya), dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wajalla.              <br />Amalan ini merupakan salah satu bentuk ibadah yang disyari’atkan dalam Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, dan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin.              <br />Adapun dalam Kitabullah, Allah ta’ala berfirman:              <br />فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ.              <br />“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berqurbanlah.” (Al-Kautsar: 2)              <br />Dan firman-Nya:              <br />قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ.              <br />“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, sesembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Al-An’am: 162-163)              <br />Waktu Pelaksanaan Al-Udh-hiyah              <br />Al-Udh-hiyah adalah ibadah yang tertentu waktunya, bagaimanapun kondisinya tidak boleh dilaksanakan sebelum waktunya, dan tidak boleh pula dilaksanakan setelah keluar dari waktunya, kecuali jika mengakhirkannya dalam rangka mengqadha’ disebabkan ‘udzur tertentu.              <br />Awal waktu pelaksanaannya adalah setelah shalat ‘Id bagi yang mengerjakan shalat ‘Id, seperti orang-orang yang tinggal di daerahnya (tidak dalam keadaan safar). Atau juga dilaksanakan setelah ada kesempatan bagi orang-orang yang tidak mengerjakan shalat ‘Id, seperti musafir dan penduduk yang tinggal di pedalaman (Badui).              <br />Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat (’Id) maka hewan yang disembelih tadi adalah hewan sembelihan biasa, bukan termasuk Udh-hiyah dan wajib untuk menyembelih lagi dengan tata cara yang sama setelah shalat sebagai penggantinya, hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:              <br />من ذبح قبل الصلاة فإنما هو لحم قدمه لأهله ، وليس من النسك في شيء.              <br />“Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat, maka sesungguhnya itu hanya daging sembelihan biasa yang disuguhkan untuk keluarganya saja, dan bukan termasuk nusuk (sembelihan qurban) sedikitpun.” (Ahmad dan Ibnu Majah)              <br />Dan diriwayatkan pula oleh Al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:              <br />ومن ذبح بعد الصلاة فقد تم نسكه ، وأصاب سنة المسلمين.              <br />“Dan barangsiapa yang menyembelih setelah shalat, maka sempurnalah nusuk (ibadah qurban)nya dan mencocoki sunnah kaum muslimin.”              <br />Jenis (Keadaan) Hewan Yang Layak dan Memenuhi Kriteria Untuk Dijadikan Hewan Qurban              <br />Hewan yang dijadikan qurban adalah dari jenis hewan ternak saja, berdasarkan firman Allah ta’ala:              <br />وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكاً لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأَنْعَامِ.              <br />“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syari’atkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka.” (Al-Hajj: 34).              <br />Hewan ternak yang dimaksud di sini adalah unta, sapi, kambing baik dari jenis dha’n (domba) maupun ma’z (kambing jawa). Demikain yang dinyatakan Ibnu Katsir, dan beliau berkata: “Ini adalah pendapat Al-Hasan, Qatadah, dan yang lainnya. Ibnu Jarir berkata: Demikian juga jenis seperti inilah yang dimaksud di kalangan orang Arab.” -selesai penukilan-.              <br />Dan juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:              <br />لا تذبحوا إلا مسنة إلا أن تعسر عليكم فتذبحوا جذعة من الضأن.              <br />“Janganlah kalian menyembelih (hewan qurban) kecuali musinnah. Kecuali jika kalian kesulitan mendapatkannya, maka dibolehkan bagi kalian untuk menyembelih jadza’ah (yang berumur muda) dari jenis dha’n.” (HR. Muslim)              <br />Musinnah adalah Tsaniyah. Tsaniyah pada Unta adalah unta yang genap berumur lima tahun. Tsaniyah pada Sapi adalah sapi yang genap berumur dua tahun. Tsaniyah pada Kambing (baik dari jenis dha’n maupun ma’z) adalah yang genap berumur satu tahun.              <br />Adapun jadza’ dari jenis dha’n adalah yang genap berumur setengah tahun.              <br />Dan juga karena Udh-hiyah adalah merupakan ibadah sebagaimana Hadyu (sesembelihan yang dilakukan jama’ah haji), sehingga amalan ini tidak disyari’atkan kecuali dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak pernah dinukilkan dari beliau bahwa beliau menyembelih untuk hadyu maupun qurban dari selain unta, sapi, dan kambing.              <br />Yang paling afdhal (utama) adalah unta, kemudian sapi, kemudian dha’n (domba), kemudian ma’z (Kambing Jawa), kemudian sepertujuh dari unta, dan kemudian sepertujuh dari sapi.              <br />Dan yang paling afdhal dari itu semua adalah yang paling gemuk, banyak dagingnya, sempurna fisiknya, dan bagus dipandang. Dalam Shahih Al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu              <br />أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يضحي بكبشين أقرنين أملحين.              <br />“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu berqurban dengan menyembelih dua kambing kibasy yang bertanduk dan amlah.”              <br />Amlah adalah yang warna putihnya bercampur dengan hitam.&#160;&#160;&#160;&#160; <br />Keadaan Hewan Qurban yang Harus Dihindari              <br />Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya: “Hewan qurban yang bagaimana yang hendaknya dihindari?” Maka beliau memberikan isyarat dengan tangannya dan bersabda:              <br />أربعا : العرجاء البين ظلعها ، والعوراء البين عورها ، والمريضة البين مرضها ، والعجفاء التي لا تنقي.              <br />“Ada empat, yaitu (1) yang pincang dan jelas pincangnya, (2) yang rusak matanya dan jelas kerusakannya, (3) yang sakit dan jelas sakitnya, dan (4) yang kurus dan tidak bersumsum.” (HR. Abu Dawud no. 2802, At-Tirmidzi no. 1502, Ibnu Majah no. 3144 dengan sanad yang dishahihkan oleh An-Nawawi rahimahullahu dalam Al-Majmu’ 8/227. )              <br />Pada riwayat At-Tirmidzi disebutkan Al-’Ajfa’ (yang kurus), dan dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan pengganti dari lafazh Al-Kasir (yang lemah).              <br />Keempat keadaan ini telah disebutkan secara nash tentang larangannya dan belum memenuhi kriteria untuk dijadikan hewan qurban, yaitu:              <br />1.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Yang rusak matanya dan jelas kerusakannya, yaitu yang matanya cekung ataupun cembung. Jika hewan tadi tidak bisa melihat dengan matanya akan tetapi kerusakannya tidak nampak jelas, maka itu masih memenuhi kriteria. Akan tetapi jika selamat (sehat) dari kelainan tersebut, maka itu lebih baik.              <br />2.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Yang sakit dan jelas sakitnya, yaitu yang nampak pengaruh sakitnya pada hewan tersebut, seperti demam yang menghalanginya dari gembalaan (tidak bisa digembalakan), dan juga seperti kudis yang parah dan bisa merusak daging atau berpengaruh terhadap kesehatannya, atau yang semisalnya dari penyakit yang dianggap oleh orang-orang sebagai penyakit yang nyata. Jika pada hewan ada sifat malas atau tubuhnya lemah yang tidak menghalangi dari gembalaan (bisa digembalakan) dan dimakan, maka ini sudah mencukupi kriteria, akan tetapi jika dipilih hewan yang kondisinya lebih segar, maka itu lebih baik.              <br />3.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Yang pincang dan jelas pincangnya, yaitu yang tidak mampu berjalan bersama hewan-hewan lain yang sehat (sehingga selalu tertinggal). Jika hewan tersebut mengalami kepincangan yang ringan dan tidak menghalanginya dari berjalan bersama hewan-hewan yang lain (bisa berjalan normal seperti yang lainnya), maka ini sudah mencukupi kriteria, akan tetapi memilih hewan yang lebih sehat (tidak ada kepincangan padanya) itu lebih baik.              <br />4.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Yang lemah atau kurus tidak bersumsum, jika hewan tersebut kurus atau lemah tetapi masih ada sumsumnya, maka ini sudah mencukupi. Kecuali jika hewan tersebut mengalami kepincangan yang sangat jelas. Akan tetapi hewan yang gemuk dan sehat itu lebih baik.              <br />Inilah empat keadaan hewan yang secara nash disebutkan dalam hadits tersebut tentang larangan menjadikannya sebagai hewan qurban. Para ulama juga berpendapat demikian. Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam kitab Al-Mughni mengatakan: “Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat tentang tidak terpenuhinya kriteria binatang yang demikian kondisinya sebagai hewan qurban.” -Selesai penukilan-.              <br />Termasuk juga hewan yang tidak boleh dijadikan qurban adalah jika kondisinya semakna (seperti) dengan empat keadaan di atas atau bahkan yang lebih parah dari itu. Masuk dalam kategori ini adalah:              <br />1.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Yang mengalami kebutaan, yaitu yang tidak bisa melihat dengan matanya. Hewan ini lebih layak untuk tidak memenuhi kriteria hewan qurban, karena kondisinya lebih parah daripada hewan “yang rusak matanya dan jelas kerusakannya.”              <br />Adapun hewan yang menderita rabun senja, yakni bisa melihat hanya pada waktu siang dan tidak bisa melihat pada malam hari, maka madzhab Asy-Syafi’i menyatakan bahwa itu sudah mencukupi kriteria, karena yang demikian tidak tergolong hewan “yang rusak matanya dan jelas kerusakannya”, dan tidak pula termasuk yang buta terus menerus sehingga mempengaruhi penggembalaan dan perkembangbiakannya. Akan tetapi hewan yang tidak menderita seperti itu lebih baik.              <br />2.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Yang mengalami sakit pencernaan, sampai dia bisa membuang kotorannya (berak). Karena penyakit pada pencernaan itu akan menimbulkan bahaya seperti penyakit yang nyata. Jika dia berhasil membuang kotorannya (berak), maka hilanglah kondisi kritis pada hewan tersebut dan sudah bisa mencukupi kriteria untuk dijadikan hewan qurban jika tidak terjadi dengannya penyakit yang jelas.              <br />3.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Hewan yang mau melahirkan sampai dia selamat (ketika melahirkan), karena kondisi seperti ini sangat berbahaya, terkadang bisa memutus kehidupannya (mati) sehingga diserupakan dengan penyakit yang nyata. Bisa saja hewan tersebut memenuhi kriteri untuk dijadikan hewan qurban jika melahirkan itu memang menjadi kebiasaan baginya dan tidak mengalami masa yang membuat dagingnya berubah dan rusak.              <br />4.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Hewan yang mengalami sesuatu yang menyebabkan kematian seperti tercekik, terpukul, jatuh, ditanduk, dan diterkam binatang buas. Karena yang demikian kondisinya itu lebih pantas untuk tidak mencukupi kriteria sebagai hewan qurban daripada hewan “yang menderita sakit yang jelas sakitnya” dan hewan “yang pincang dan jelas kepincangannya.”              <br />5.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Az-Zumna, yaitu hewan yang lemah tidak mampu berjalan karena penyakit tertentu, ini lebih pantas untuk tidak mencukupi kriteria sebagai hewan qurban daripada hewan “yang pincang dan jelas kepincangannya.” Adapun hewan yang lemah tidak mampu berjalan karena kegemukan, maka madzhab Malikiyah meyatakan hal itu sudah mencukupi karena tidak adanya penyakit pada hewan tersebut dan tidak ada cacat pada tubuhnya.              <br />6.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Hewan yang terpotong salah satu tangan atau kakinya, karena ini juga lebih pantas untuk tidak mencukupi kriteria sebagai hewan qurban daripada “yang pincang dan jelas kepincangannya.” Dan juga karena telah hilang bagian yang vital dari tubuhnya sehingga diserupakan dengan hewan yang terpotong ekornya.              <br />Inilah di antara cacat yang menghalangi terpenuhinya kriteria ideal hewan qurban, yaitu ada sepuluh, empat di antaranya telah disebutkan secara nash dan yang enam adalah dengan qiyas. Jika didapati salah satu dari keadaan-keadaan (cacat) tersebut pada hewan ternak, maka tidak boleh berqurban dengannya karena tidak terpenuhinya salah satu syarat yaitu selamat (sehat) dari cacat yang bisa menghalangi terpenuhinya kriteria ideal hewan qurban.              <br />Apakah Boleh Berqurban Atas Nama Mayit (Orang yang Sudah Meninggal Dunia)?              <br />Pada asalnya berqurban itu disyari’atkan terhadap orang-orang yang masih hidup sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya dahulu berqurban untuk diri mereka sendiri dan keluarganya. Adapun permasalahan yang diyakini sebagian orang awam yaitu pengkhususan qurban untuk orang yang sudah meninggal, maka ini tidak ada dasarnya dalam syari’at ini.              <br />Berqurban atas nama orang yang sudah meninggal ada tiga macam:              <br />1.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Berqurban atas nama orang yang sudah mati tetapi sifatnya hanya mengikuti yang masih hidup, seperti seseorang berqurban atas nama dirinya sendiri dan keluarganya, dan dia meniatkan keluarga yang dimaksud di sini adalah yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Dasar dari amalan ini adalah qurban yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berqurban atas nama diri beliau sendiri dan keluarganya, dan di antara anggota keluarganya ada yang sudah meninggal sebelumnya.              <br />2.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Berqurban atas nama mayit dalam rangka menjalankan wasiatnya. Dasar dari amalan ini adalah firman Allah ta’ala:              <br />فَمَن بَدَّلَهُ بَعدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِلُونَهُ إِنَّ اللهَ سَمِيع عَلِيمٌ.              <br />“Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 181)              <br />3.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Berqurban atas nama mayit dalam rangka shadaqah yang terpisah (berdiri sendiri) dari yang masih hidup, maka ini diperbolehkan. Para ulama madzhab Al-Hanabilah menyatakan bahwa pahalanya akan sampai kepada si mayit dan bisa memberikan manfaat baginya, atas dasar qiyas dengan amalan shadaqah atas nama dia.              <br />Akan tetapi kami tidak memandang bahwa pengkhususan qurban atas nama orang yang sudah meninggal itu merupakan sunnah (tuntutan Nabi), karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mengkhususkan berqurban atas nama seorang pun dari orang-orang yang sudah meninggal. Tidak pernah beliau berqurban atas nama paman beliau, Hamzah, padahal dia adalah salah seorang kerabat yang paling mulia di sisi beliau. Dan tidak pula beliau berqurban atas nama anak-anaknya yang telah meninggal ketika beliau masih hidup, tiga anak perempuan yang telah menikah dan tiga anak laki-laki yang masih kecil. Dan tidak pula beliau berqurban atas nama istri beliau, Khadijah padahal beliau adalah salah seorang istri yang paling beliau cintai. Dan tidak pernah pula disebutkan dari para shahabat pada zamannya, bahwa salah seorang dari mereka berqurban atas nama seseorang yang sudah meninggal.              <br />Dan kami juga melihat di antara kesalahan yang dilakukan sebagian orang adalah mereka berqurban (menyembelih hewan) atas nama orang yang telah meninggal pada awal tahun kematiannya yang mereka namakan dengan Udh-hiyatul Hufrah. Mereka berkeyakinan bahwa tidak boleh bagi seorang pun untuk bersama-sama dalam meraih pahala dengan si mayit tersebut. Atau mereka berqurban dari harta orang yang sudah meninggal dalam rangka shadaqah ataupun menjalankan wasiatnya, dan tidak berqurban atas nama diri sendiri dan keluarganya. Kalau seandainya mereka mengetahui bahwa seseorang jika berqurban dari hartanya sendiri atas nama diri dan keluarganya baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, maka mereka tidak akan meninggalkan yang seperti ini untuk berpaling kepada amalan mereka (sebelumnya) tersebut.              <br />Hal-Hal Yang Harus Dijauhi Oleh Seseorang Yang Hendak Berqurban              <br />Jika seseorang hendak berqurban dan telah memasuki bulan Dzulhijjah &#8211; baik dengan cara ru’yatul hilal maupun menyempurnakan bulan Dzulqa’dah menjadi 30 hari &#8211; maka diharamkan baginya untuk mengambil (memotong) sedikitpun dari rambut, kuku, dan kulitnya sampai dia benar-benar telah menyembelih hewan qurbannya. Berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:              <br />إذا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يضحي فليمسك عن شعره وأظفاره.              <br />Jika telah masuk sepukuh hari pertama bulan Dzulhijjah, dan salah seorang dari kalian hendak menyembelih hewan qurban, maka tahanlah (tidak memotong) dari rambut dan kukunya.” (HR. Ahmad dan Muslim)              <br />Dan dalam lafazh yang lain:              <br />فلا يمسَّ من شعره ولا بشره شيئاً حتى يضحي.              <br />Maka janganlah menyentuh (mengambil) rambut dan kulitnya sedikitpun sampai dia melaksanakan qurbannya.”              <br />Dan jika niat untuk berqurban itu muncul di pertengahan sepuluh hari tersebut, maka hendaknya dia menahan diri (untuk tidak mengambil/memotong rambut, kuku, dan kulitnya) mulai saat itu juga, dan dia tidak berdosa jika pernah mengambil/memotongnya ketika sebelum berniat.              <br />Hikmah larangan ini adalah bahwasamya seorang yang berqurban, yang berarti dia turut serta bersama jama’ah haji dalam melakukan sebagian amaliah manasik &#8211; yaitu dalam bentuk menyembelih hewan qurban &#8211; maka dia pun juga harus turut serta (dengan para jama’ah haji) dalam&#160; hal sebagian kekhususan (keadaan ketika) ihram, berupa menahan diri (tidak mengambil/memotong) rambut dan yang semisalnya. Atas dasar ini, maka dibolehkan bagi keluarga orang yang hendak berqurban untuk mengambil/memotong rambut, kuku, dan kulitnya pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah tersebut.              <br />Hukum ini khusus berlaku bagi orang yang hendak berqurban. Adapun bagi Al-Mudhahha ‘Anhu (pihak yang diatasnamakan padanya qurban), maka tidak ada kaitannya sama sekali dengan hukum tersebut karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:              <br />وأراد أحدكم أن يضحي…              <br />“Dan salah seorang dari kalian hendak menyembelih hewan qurban …”              <br />Dan tidak mengatakan:              <br />“… ataupun juga bagi yang diatasnamakan padanya qurban.”              <br />Di samping itu juga karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu pernah berqurban dengan mengatasnamakan keluarganya, namun tidak pernah dinukilkan dari beliau bahwa beliau memerintahkan mereka (keluarganya) untuk menahan diri (tidak mengambil/memotong) itu semua.              <br />Dan jika orang yang hendak berqurban mengambil/memotong sedikit saja dari rambut, kuku, ataupun kulitnya, maka wajib atas dia untuk bertaubat kepada Allah ta’ala dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Tidak diwajibkan bagi dia untuk membayar kaffarah, dan tidak pula menghalangi dia untuk menyembelih hewan qurbannya sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang awam [2].              <br />Dan jika mengambil/memotongnya itu disebabkan lupa atau tidak mengerti hukumnya, atau karena rambut tersebut rontok tanpa disengaja, maka tidak ada dosa baginya. Dan jika memang benar-benar sangat diperlukan untuk mengambil/memotongnya (karena darurat), maka yang demikian diperbolehkan baginya dan tidak terkenai tanggungan (dosa) sedikitpun, misalnya ketika kukunya patah yang menyebabkan gangguan padanya, sehingga dia harus memotongnya, ataupun rambutnya terurai ke bawah sampai mengenai kedua matanya sehingga dia harus menghilangkannya, dan juga karena sangat dibutuhkan untuk pengobatan luka dan yang semisalnya.              <br />Beberapa Hukum Dan Adab Terkait Dengan Hari Raya ‘Idul Adh-ha Yang Penuh Barakah Ini              <br />Saudaraku muslim, segala bentuk kebaikan adalah dengan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam semua aspek kehidupan kita. Dan segala bentuk kejelekan adalah dengan menyelisihi petunjuk Nabi kita. Oleh karena itulah kami bermaksud untuk menyebutkan kepada anda sebagian perkara yang disunnahkan untuk diamalkan ataupun diucapkan pada malam idul Adh-ha yang penuh barakah, hari Nahr (tanggal 10), dan tiga hari-hari Tasyriq (tanggal 11, 12, 13). Dan perkara-perkara tersebut telah kami ringkas dalam beberapa poin berikut :              <br />Takbir              <br />Disyari’atkan untuk mengumandangkan takbir sejak waktu fajar pada hari ‘Arafah (tanggal 9) sampai waktu ‘Ashr pada hari Tasyriq yang terakhir yaitu tanggal 13 Dzulhijjah. Allah Ta’ala berfirman:              <br />وَاذكُرُواْ اللهَ فِي أَيَامٍ مَعدُودَاتٍ.              <br />“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (Al Baqarah: 203)              <br />Dan lafazh Takbir adalah:              <br />الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر الله أكبر ولله الحمد              <br />Dan disunnahkan untuk mengeraskannya bagi laki-laki, baik di masjid-masjid, pasar-pasar, rumah-rumah, dan setiap selesai shalat dalam rangka memperlihatkan keagungan Allah dan menampakkan ibadah dan rasa syukur kepada-Nya.              <br />Menyembelih Hewan Qurban.              <br />Dilakukan setelah pelaksanaan Shalat ‘Id, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:              <br />من ذبح قبل أن يصلي فليعد مكانها أخرى، ومن لم يذبح فليذبح.              <br />“Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat ‘Id, maka hendaklah dia menggantinya dengan yang lain, dan barangsiapa yang belum menyembelih (setelah shalat ‘Id), maka lakukanlah penyebelihan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)              <br />Dan waktu penyembelihan itu ada empat hari : hari Nahr (tanggal 10) dan tiga hari-hari Tasyriq (11, 12, 13), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:              <br />كل أيام التشريق ذبح.              <br />“Semua hari-hari tasyriq adalah (waktu) penyembelihan.” (HR. Ahmad. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah no. 2476)              <br />Mandi, Memakai Wewangian dan Memakai Baju Paling Bagus Bagi Laki-Laki tanpa berlebihan dan tidak isbal (Memanjangkan kain celana/sarung sampai melebihi mata kaki)              <br />Dan tidak pula memotong jenggot karena ini semua adalah sesuatu yang diharamkan.              <br />Adapun kaum wanita, maka disyari’atkan baginya untuk keluar ke mushalla ‘id tanpa tabarruj (berhias) dan memakai wewangian. Tidak sah jika melakukan ketaatan kepada Allah dan melakukan shalat, tetapi pada yang saat bersamaan bermaksiat kepada-Nya dengan melakukan tabarruj,&#160; tidak memakai hijab (cadar), dan memakai wewangian di hadapan laki-laki.              <br />Makan Dari Hewan Sembelihan              <br />Dahulu Rasulullah tidak makan sampai beliau pulang dari mushalla (tempat shalat ‘Id) dan kemudian memakan daging sembelihannya. (Zadul Ma’ad I/441)              <br />Pergi ke Mushalla (Tempat Shalat) ‘Id dengan Berjalan Kaki, jika mudah baginya.              <br />Dan menurut sunnah adalah shalat ‘id itu dilakukan di mushalla [3] kecuali jika di sana ada udzur seperti hujan, maka shalat di masjid berdasarkan amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.              <br />Shalat ‘Id Hukumnya Wajib, Adapun Menghadiri Khuthbah ‘Id Hukumnya Sunnah.              <br />Masalah yang ditarjihkan oleh para muhaqqiqun (peneliti) dari kalangan para ‘ulama, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, adalah bahwa shalat ‘id itu hukumnya wajib, berdasarkan firman Allah ta’ala:              <br />فَصَلِّ لِرَبِكَ وَانحَر.              <br />“Maka Dirikanlah shalat tarena Rabbmu; dan berqurbanlah.” (Al Kautsar: 2)              <br />Dan kewajiban tersebut tidak akan gugur kecuali jika ada udzur. Para wanita juga (diwajibkan) menghadiri shalat ‘id bersama dengan kaum muslimin lainnya walaupun sedang mengalami haid maupun yang sedang berada dalam pingitan. Akan tetapi para wanita haid diharuskan berada pada posisi yang terpisah dengan mushalla.              <br />Melewati Jalan yang Berbeda (Jalan Berangkat Berbeda dengan Jalan Pulang)              <br />Disunnahkan bagi anda untuk pergi ke mushalla ‘id dengan melewati jalan tertentu dan ketika pulang dengan melewati jalan yang lain karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbuat yang demikian.              <br />Mengucapkan Selamat Hari Raya, karena hal ini pernah dilakukan para shahabat Rasulullah.              <br />Hati-Hati Dari Kesalahan Yang Sering Terjadi Pada Hari Raya              <br />Berhati-hatilah wahai saudaraku muslim dari ketergelinciran kepada kesalahan yang banyak terjadi di tengah-tengah manusia, di antara kesalahan tersebut adalah:              <br />1.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Mengumandangkan takbir secara bersama-sama dengan satu suara (serempak) atau mengulang-ulang takbir di belakang seorang yang mengumandangkannya.              <br />2.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Melakukan permainan pada hari ‘id dengan sesuatu yang haram, seperti mendengarkan musik, menonton film, ikhthilat (bercampur baurnya laki-laki dan perempuan) yang bukan mahramnya, dan yang lainnya dari bentuk-bentuk kemungkaran.              <br />3.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Mengambil (menggunting) rambut dan memotong kuku walaupun sedikit sebelum menyembelih hewan qurbannya bagi yang akan berqurban karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang yang demikian.              <br />4.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Berlebihan dan boros (dalam menghamburkan harta) untuk sesuatu yang tidak ada manfaat dan mashlahatnya berdasarkan firman Allah ta’ala:              <br />وَلا تُسرِفُوا إِنّهُ لا يُحِبُّ المُسرِفِينَ.              <br />“Dan janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Al An’am: 141)              <br />Dan sebagai penutup, jangan lupa wahai saudaraku muslim untuk bersemangat dalam beramal kebajikan seperti silaturrahim, mengunjungi kerabat, meninggalkan sikap saling membenci, hasad, dan tidak suka kepada saudaranya, serta berupaya untuk membersihkan hati dari itu semua, menyantuni fakir miskin dan anak yatim, membantu mereka, dan berusaha menggembirakan mereka.              <br />Kami memohon kepada Allah untuk memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk beramal dengan amalan yang dicintai dan diridhai-Nya, dan agar Allah memberikan kepahaman terhadap agama kita, dan agar Allah menjadikan kita termasuk di antara hamba-hamba-Nya yang bisa beramal pada hari-hari ini -sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah- dengan amalan yang shalih dan ikhlas semata-mata mengharapkan wajah-Nya yang mulia.              <br />وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.              <br />Diambil dari Maqalat Wa Fatawa Wa Rasail              <br />Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullahu ta’ala.              <br />diterjemahkan oleh : Ust. Abu ‘Abdillah Kediri dan Abu ‘Amr Ahmad              <br />[1] Tanggal 10 Dzulhijjah.              <br />[2] Sebagian orang awam berkeyakinan kalau orang yang hendak berqurban memotong rambut, kuku, maupun kulitnya pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, maka dia harus membatalkan niatnya untuk berqurban tersebut. Ini adalah keyakinan yang keliru.              <br />[3] Yakni selain masjid. Namun di luar masjid, berupa tanah yang lapang, kosong, dan luas yang diistilahkan mushalla. Biasanya terletak di pinggir desa/kampung.              <br /><a href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=397#more-397">http://www.assalafy.org/mahad/?p=397#more-397</a></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abafadhlan.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abafadhlan.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abafadhlan.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abafadhlan.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abafadhlan.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abafadhlan.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abafadhlan.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abafadhlan.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abafadhlan.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abafadhlan.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abafadhlan.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abafadhlan.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abafadhlan.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abafadhlan.wordpress.com/162/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=162&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/11/13/dzulhijjah-bulan-mulia-penuh-ibadah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4e082dd1dfeb37254d35b6cc9e1acba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abafadhlan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jadwal Kajian Terbaru Majelis Ta&#8217;lim Ahlussunnah Tangerang</title>
		<link>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/10/27/jadwal-kajian-terbaru-majelis-talim-ahlussunnah-tangerang/</link>
		<comments>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/10/27/jadwal-kajian-terbaru-majelis-talim-ahlussunnah-tangerang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 22:15:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abafadhlan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abafadhlan.wordpress.com/2009/10/27/jadwal-kajian-terbaru-majelis-talim-ahlussunnah-tangerang/</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah Berikut jadwal Kajian Terbaru yang diadakan oleh Majelis Ta&#8217;lim Ahlussunnah Tangerang : 1. Jadwal Ta&#8217;lim Umum Tempat : Masjid Baiturrohmah Perum Keroncong Permai Kota Tangerang Waktu : Hari Ahad Pagi , Jam 10.00 WIB &#8211; Selesai Materi : * Ahad 1 : Kitab Fathul Majid Syarhu Kitabut Tauhid (Syaikh Abdurrohman Alusy syaikh) Pengajar : [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=161&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah</p>
<p>Berikut jadwal Kajian Terbaru  yang diadakan oleh Majelis Ta&#8217;lim Ahlussunnah Tangerang :</p>
<p>1. Jadwal Ta&#8217;lim Umum</p>
<p>Tempat    : Masjid Baiturrohmah Perum Keroncong Permai Kota Tangerang</p>
<p>Waktu      : Hari Ahad Pagi , Jam 10.00 WIB &#8211; Selesai</p>
<p>Materi       :</p>
<p>    * Ahad 1 : Kitab Fathul Majid Syarhu Kitabut Tauhid (Syaikh Abdurrohman Alusy syaikh)   </p>
<p>                    Pengajar : Al Ustadz Amr Bin Syuroif</p>
<p>    * Ahad 2 : Kitab Al Ubudiyah (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) &amp; Mulakhos Fiqhi (syaikh Al Fauzan  )</p>
<p>                   Pengajar : Al Ustadz Abdul Bar</p>
<p>    * Ahad 3 : Kitab Al Masailul Jahiliyah (Syaikhul Islam Muhammad Bin Abdul Wahab) &amp; Bulughul Marom </p>
<p>                   (Al Hafidz Ibnu Hajar Al Atsqolani)</p>
<p>                    Pengajar : Al Ustadz Abdurrohman Mubarok</p>
<p>    * Ahad 4 : Kitab Fathul Majid Syarhu Kitabut Tauhid (Syaikh Abdurrohman Alusy syaikh)</p>
<p>                    Pengajar : Al Ustadz Amr Bin Syuroif </p>
<p>       Ket : Ahad ke 5 sama dengan ahad ke 4<br />
       Info Ta&#8217;lim : Abu Turob : (021) 5925909 </p>
<p>2.  Jadwal Ta&#8217;lim Halaqoh<br />
     Pengajar : Al Ustadz Amr bin Syuroif</p>
<p>    1. Hari Ahad Ba&#8217;dha Ashar<br />
        Tempat : Perumahan Rajeg Pasar kemis Tangerang<br />
        Materi : Bulughul Marom<br />
        Info Ta&#8217;lim : Rahmat (087880209324)</p>
<p>    2. Hari Ahad Ba&#8217;dha Isya<br />
        Tempat : Masjid Baiturrohmah Perum Keroncong permai Tangerang<br />
        Materi : Arba&#8217;un Annawawiyah<br />
        Info Ta&#8217;lim : Abu Turob : (021) 5925909 </p>
<p>    3. Hari Senin Ba&#8217;dha Isya<br />
        Tempat : Masjid Al Mujaddid (Komplek SD/SMP Muhammadiyah Kotabumi)<br />
        Materi : Arba&#8217;un Annawawiyah<br />
        Info Ta&#8217;lim : Abu Ismail  : (081381346150)</p>
<p>    4. Hari Selasa Ba&#8217;dha Isya<br />
        Tempat : Perumahan Bukit Tiara Cikupa Tangerang<br />
        Materi : Umdatul Ahkam<br />
        Info Ta&#8217;lim : Abu Faruq : (021-98606922/021-96489047)</p>
<p>    5. Hari Rabu Ba&#8217;dha Isya<br />
        Tempat : Perumahan Tigaraksa Kabupaten Tangerang<br />
        Materi : Riyadhus Shalihin<br />
        Info Ta&#8217;lim : Hibnu (081586056597) Abu Amr (088210679596)</p>
<p>    6. Hari Kamis Ba&#8217;dha Isya<br />
        Tempat : Masjid Baitul Hamdi (Torabika) Cikupa Tangerang<br />
        Materi : Kasyfusy Syubuhat<br />
        Info Ta&#8217;lim : Abu Hatim (081384457797)</p>
<p>    7. Hari Jum&#8217;at  Ba&#8217;dha Isya<br />
        Tempat : Kp.Cirewed Komplek Muhammadiyah Cikupa Tangerang<br />
        Materi : Riyadhus Sholihin<br />
        Info Ta&#8217;lim : Abu Hatim (081384457797)</p>
<p>3.  Jadwal Ta&#8217;lim Khusus Ummahat<br />
     Pengajar : Al Ustadz Amr bin Syuroif</p>
<p>    1. Hari Ahad Ba&#8217;dha Dhuhur<br />
        Tempat : Perum Keroncong Permai Blok EP 36 No. 8 Jatiuwung Kota Tangerang<br />
        Materi   : Isyrotun Nissa (Al Imam An Nasai)<br />
        Info Ta&#8217;lim : Abu Turob Wa Zaujatuhu : (021) 5925909 </p>
<p>    2. Hari Sabtu Jam 11. 00 (Siang)<br />
        Tempat : Perumahan Tiga Raksa Kabupaten Tangerang<br />
        Materi   : Tarbiyatul Aulad<br />
        Info Ta&#8217;lim : Hibnu (081586056597) Abu Amr (088210679596)</p>
<p>3.  Jadwal Ta&#8217;lim Ma&#8217;had Al Jurumiyah Kp .  Cirewed Cikupa Tangerang<br />
     Pengajar : Al Ustadz Amr bin Syuroif</p>
<p>    1. Hari Ahad Sd Sabtu (Setiap Hari)</p>
<p>        Ba&#8217;dha Subuh : Tafsir Kalimur Rohman (As Sa&#8217;di)<br />
        Ba&#8217;dha Dzuhur : Zaadul Ma&#8217;ad<br />
        Ba&#8217;dha Ashar  : Shahih Bukhori</p>
<p>    2. Hari Sabtu  Jam 07 : 00 Pagi<br />
        Materi : Durusul Lughoh Al Arobiyah Jilid 1 &amp; Muyassar li ilmin nahwi (Kelas 1)</p>
<p>    3. Hari Senin ; Rabu ; Jumat Pagi Ba&#8217;dha Subuh (05 : 30 ) setelah pelajaran Tafsir<br />
        Materi : Durusul Lughoh Al Arobiyah Jilid 2 &amp; Matan Jurumiyyah (Kelas 2 )</p>
<p>     Info Ta&#8217;lim : Abu Hatim (081384457797)<br />
                       Abu Harits (021-5906892)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abafadhlan.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abafadhlan.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abafadhlan.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abafadhlan.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abafadhlan.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abafadhlan.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abafadhlan.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abafadhlan.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abafadhlan.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abafadhlan.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abafadhlan.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abafadhlan.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abafadhlan.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abafadhlan.wordpress.com/161/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=161&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/10/27/jadwal-kajian-terbaru-majelis-talim-ahlussunnah-tangerang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4e082dd1dfeb37254d35b6cc9e1acba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abafadhlan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hikmah Ilahi di Balik Gempa Bumi</title>
		<link>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/10/05/hikmah-ilahi-di-balik-gempa-bumi/</link>
		<comments>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/10/05/hikmah-ilahi-di-balik-gempa-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 00:46:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abafadhlan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abafadhlan.wordpress.com/2009/10/05/hikmah-ilahi-di-balik-gempa-bumi/</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Al-Ustadz Abdul Haq Saudara-saudaraku seiman -semoga Allah merahmatimu-, selama hayat masih di kandung badan, selama jantung masih berdetak dan darah masih mengalir, demikian pula selama nafas masih berhembus, adalah sebuah kemestian jika cobaan, rintangan, musibah demi musibah, silih berganti mendatangi kita Di sebuah tempat di negeri ini, seorang ibu berkerudung tengah duduk ditemani tiga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=160&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><i>Penulis: Al-Ustadz Abdul Haq </i></p>
<p align="justify">Saudara-saudaraku seiman -semoga Allah merahmatimu-, selama hayat masih di kandung badan, selama jantung masih berdetak dan darah masih mengalir, demikian pula selama nafas masih berhembus, adalah sebuah kemestian jika cobaan, rintangan, musibah demi musibah, silih berganti mendatangi kita</p>
<p><span id="more-160"></span>
<p align="justify">Di sebuah tempat di negeri ini, seorang ibu berkerudung tengah duduk ditemani tiga anaknya. Di depannya tampak sebuah rumah yang hampir rata dengan tanah. Itulah harta berharganya yang telah terenggut oleh gempa. Hampir tak ada lagi yang tersisa setelah itu.</p>
<p align="justify">Namun sedikitpun, tidak tampak gurat kesedihan pada dirinya. Padahal kini dengan sisa harta yang tidak seberapa, dia harus berjuang untuk hidup. Ia pun mesti mengubur dalam-dalam bayang kenyamanan tinggal di sebuah rumah. Karena rumahnya kini, hanya beralaskan bumi dan beratapkan langit.</p>
<p align="justify">Apapun yang terjadi, dia tetap memiliki sebuah keyakinan bahwa di balik itu semua ada hikmah dari Rabb subhanahu wa ta&#8217;ala.</p>
<p align="justify">Allah subhanahu wa ta&#8217;ala telah menyatakan di dalam Al-Qur’an:</p>
<p align="justify">الم (١)أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ (٢)وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (٣)</p>
<p align="justify">&quot;Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang- orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.&quot; (Al -Ankabuut: 1-3)</p>
<p align="justify">Saudara-saudaraku seiman -semoga Allah merahmatimu-, selama hayat masih di kandung badan, selama jantung masih berdetak dan darah masih mengalir, demikian pula selama nafas masih berhembus, adalah sebuah kemestian jika cobaan, rintangan, musibah demi musibah, silih berganti mendatangi kita, sebagaimana yang telah Allah subhanahu wa ta&#8217;ala tetapkan dalam ayat di atas.</p>
<p align="justify">Perlu kita ketahui pula bahwa segala sesuatu yang menimpa kita, kebaikan maupun kejelekan, kesenangan ataupun kesedihan, dan yang lainnya, merupakan sesuatu yang telah ditakdirkan dan ditetapkan Allah subhanahu wa ta&#8217;ala. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta&#8217;ala nyatakan dalam firman-Nya:</p>
<p align="justify">مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (٢٢)</p>
<p align="justify">&quot;Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.&quot; (Al-Hadid: 22)</p>
<p align="justify">Takdir ini telah Allah subhanahu wa ta&#8217;ala tentukan 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam:</p>
<p align="justify">&quot;Allah telah menulis takdir-takdir seluruh makhluq (pada kitab lauh mahfudz) 50.000 (lima puluh ribu) tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.&quot; (HR. Al-Imam Muslim dari shahabat Abdullah ibn Amr ibn Al-Ash radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p align="justify">Dengan demikian kita sadar bahwa gempa yang merobohkan rumah-rumah kita, mengubur harta kita, dan melukai saudara-saudara kita, bahkan menyebabkan terambilnya sebagian nyawa mereka, semuanya telah Allah subhanahu wa ta&#8217;ala takdirkan. Tiada seorangpun yang mampu untuk mengelakkannya, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam:</p>
<p align="justify">&quot;Apa yang harus menimpamu tidak akan luput darimu, dan apa-apa yang luput darimu tidaklah akan menimpamu.&quot; (HR. Al-Imam At- Tirmidzi dari shahabat Ibnu Abbas)</p>
<p align="justify">Apa rahasia di balik itu semua? Apakah Allah subhanahu wa ta&#8217;ala hendak berbuat dzalim kepada hamba-Nya atau menyakitinya? Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah subhanahu wa ta&#8217;ala bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</p>
<p align="justify">&quot;Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, niscaya Allah akan menyegerakan hukuman baginya di dunia dan jika Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya niscaya Allah akan mengakhirkan hukuman atas dosa-dosanya sehingga Allah akan menyempurnakan hukuman baginya di akhirat kelak.&quot; (HR. Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Anas ibn Malik radhiyallahu &#8216;anhu).</p>
<p align="justify">Hadits tersebut menjelaskan bahwa apabila Allah subhanahu wa ta&#8217;ala menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya, niscaya Allah subhanahu wa ta&#8217;ala akan menyegerakan hukuman baginya di dunia. Maka bergembiralah, wahai saudara-saudaraku kaum muslimin! Karena musibah ini kita harapkan sebagai bukti bahwa Allah menghendaki kebaikan untuk diri-diri kita, baik di dunia maupun di akhirat, sebagaimana yang Rasulullah sabdakan:</p>
<p align="justify">&quot;Barangsiapa dikehendaki oleh Allah suatu kebaikan bagi dirinya, niscaya Allah akan menimpakan baginya musibah.&quot; (HR. Al-Imam Al-Bukhari dan shahabat Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p align="justify">Janganlah patah semangat, wahai saudaraku kaum muslimin, atas musibah apapun yang menimpamu, karena itu akan menjadikan besar pula pahalamu, sebagaimana sabda Rasul shallallahu &#8216;alaihi wasallam:</p>
<p align="justify">&quot;Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung dengan besarnya ujian/musibah yang menimpamu.&quot; (HR. Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Anas radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p align="justify">Bangkitlah wahai saudaraku! Karena ini merupakan bukti bahwa Allah mencintaimu, sebagaimana sabda Rasulmu shallallahu &#8216;alaihi wasallam:</p>
<p align="justify">&quot;Apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha maka ia akan mendapatkan keridhaan Allah, dan barangsiapa yang murka maka ia akan mendapatkan kemurkaan dari Allah.&quot;</p>
<p align="justify">Besarkanlah hatimu wahai kaum muslimin! Karena ini merupakan tanda bahwa Allah subhanahu wa ta&#8217;ala akan mengampuni dosa-dosamu, sehingga meringankanmu di hari perhitungan nanti. Sebagaimana ini dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Tirmidzi dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu:</p>
<p align="justify">&quot;Cobaan akan terus senantiasa menimpa seorang mukmin, laki-laki dan wanita, baik pada jiwanya, anaknya, demikian pula hartanya sehingga ia berjumpa dengan Allah (meninggal) dan tidak ada padanya satu dosapun (tidak menanggung satu dosapun).&quot;</p>
<p align="justify">Sabar dan tetaplah bersabar wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, dengan tetap memohon pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta&#8217;ala dan banyak memanjatkan doa kepada-Nya. Sebagaimana bimbingan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam kepada Ummu Salamah dketika beliau tertimpa musibah:</p>
<p align="justify">&quot;Sesungguhnya kita milik Allah dan hanya kepada Allah kita akan kembali. Ya Allah, berilah pahala atas musibah yang menimpaku dan gantilah untukku dengan yang lebih baik dengannya.&quot; (HR. Al-Imam Muslim dari shahabat Ummu Salamah radhiyallahu &#8216;anha)</p>
<p align="justify">Sepantasnya kaum muslimin senantiasa memanjatkan rasa syukurnya kepada Allah subhanahu wa ta&#8217;ala, karena Allah subhanahu wa ta&#8217;ala telah memilihnya untuk dihapuskan dosa-dosanya, bertambah banyak pahalanya, dan akan Allah angkat derajatnya.</p>
<p align="justify">Sekalipun rumah hancur atau harta musnah, namun kenikmatan yang agung tetap ada pada kita. Yaitu kenikmatan iman dan kenikmatan Islam, sebagaimana yang Allah firmankan:</p>
<p align="justify">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا </p>
<p align="justify">&quot;Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.&quot; (Al-Maidah:3)</p>
<p align="justify">Diambil dari Buletin Asy-Syariah edisi perdana (I/1). Diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Bantul bekerja sama Yayasan Asy-Syariah. Alamat Redaksi: Posko Tim Peduli Musibah Asy- Syariah. RT 06/RW 46 Dagaran Jurug Bangunharjo Sewon Bantul Telp 0274-7406120</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abafadhlan.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abafadhlan.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abafadhlan.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abafadhlan.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abafadhlan.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abafadhlan.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abafadhlan.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abafadhlan.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abafadhlan.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abafadhlan.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abafadhlan.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abafadhlan.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abafadhlan.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abafadhlan.wordpress.com/160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=160&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/10/05/hikmah-ilahi-di-balik-gempa-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4e082dd1dfeb37254d35b6cc9e1acba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abafadhlan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penerimaan Santri Madrosah Al-Jurumiyyah Tangerang</title>
		<link>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/09/30/penerimaan-santri-madrosah-al-jurumiyyah-tangerang/</link>
		<comments>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/09/30/penerimaan-santri-madrosah-al-jurumiyyah-tangerang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 02:47:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abafadhlan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abafadhlan.wordpress.com/2009/09/30/penerimaan-santri-madrosah-al-jurumiyyah-tangerang/</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah, Telah dibuka Madrosah Al-Jurumiyyah Tangerang: d.a. H. Johari Jl. Raya Serang KM 12.5 Kompleks Muhammadiyyah Cikupa, Tangerang, Banten Kode pos 15710 Telah Tersedia Asrama 1 Unit. Masih Akan Dibangun 1 Unit untuk Ruang Kelas. Materi Pendidikan: 1. Bahasa Arob 2. Aqidah 3. Tauhid 4. Fiqih 5. Tafsir Ketentuan-ketentuan: 1. Muslim Laki-laki Usia Minimal 15 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=159&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah,</p>
<p>Telah dibuka Madrosah Al-Jurumiyyah Tangerang:</p>
<p>d.a. H. Johari Jl. Raya Serang KM 12.5 Kompleks Muhammadiyyah Cikupa, Tangerang, Banten Kode pos 15710</p>
<p>Telah Tersedia Asrama 1 Unit. Masih Akan Dibangun 1 Unit untuk Ruang Kelas.</p>
<p>Materi Pendidikan:</p>
<p>1. Bahasa Arob</p>
<p>2. Aqidah</p>
<p>3. Tauhid</p>
<p>4. Fiqih</p>
<p>5. Tafsir</p>
<p>Ketentuan-ketentuan:</p>
<p>1. Muslim Laki-laki Usia Minimal 15 Tahun</p>
<p>2. Siap Mengikuti Program Pelndidikan Selama 1 Tahun</p>
<p>3. Mendapat Izin dari Orang Tua / Wali</p>
<p>4. Sehat Jasmani dan Rohani</p>
<p>5. Tidak Merokok</p>
<p>6. Tidak Membawa HP</p>
<p>7. Biaya Pendidikan Gratis</p>
<p>8. Sanggup Mentaati Tata Tertib Pendidikan</p>
<p>9. Terbuka untuk 10 Orang</p>
<p>10. Waktu Pendidikan Dimulai 1 atau 2 Bulan Kemudian</p>
<p>Tenaga Pendidik:</p>
<p>1. Al-Ustadz &#8216;Amr bin Suroib</p>
<p>2. Al-Ustadz Nursyam</p>
<p>3. Al-Akh Abu Hatim</p>
<p>Bagi Ikhwah Fillah yang Ingin Berta&#8217;awun dapat Menyalurkan Bantuannya ke:</p>
<p>Rekening Bank Mandiri Cabang Cikupa Tangerang</p>
<p>a.n. M. Mas Wahyudi</p>
<p>155-00-0910-1075</p>
<p>Informasi Lebih Lanjut Silakan Menghubungi:</p>
<p>0812-5344-0954</p>
<p>0813-8445-7797</p>
<p>021-596-0270</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abafadhlan.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abafadhlan.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abafadhlan.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abafadhlan.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abafadhlan.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abafadhlan.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abafadhlan.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abafadhlan.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abafadhlan.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abafadhlan.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abafadhlan.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abafadhlan.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abafadhlan.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abafadhlan.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=159&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/09/30/penerimaan-santri-madrosah-al-jurumiyyah-tangerang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4e082dd1dfeb37254d35b6cc9e1acba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abafadhlan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Zakat Fitrah seperti Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wassalam</title>
		<link>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/09/12/zakat-fitrah-seperti-rasulullah-shalallahu-alaihi-wassalam/</link>
		<comments>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/09/12/zakat-fitrah-seperti-rasulullah-shalallahu-alaihi-wassalam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 10:17:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abafadhlan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Romadhon]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abafadhlan.wordpress.com/2009/09/12/zakat-fitrah-seperti-rasulullah-shalallahu-alaihi-wassalam/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Penulis: Syaikh Salim &#38; Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid &#160; &#160; &#160; 1. Hukumnya Zakat Fitri ini (hukumnya) wajib berdasarkan hadits (dari) Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma:&#8220;Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri [pada bulan Ramadhan kepada manusia].&#8221;194)[HR Bukhari (3/291) dan Muslim (984) dan tambahannya pada Muslim] Dan berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: &#8220;Rasulullah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=154&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="article-index-meta" align="justify">&nbsp;</div>
<div class="article-index-meta" align="justify">Penulis: Syaikh Salim &amp; Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid</div>
<div class="article-index-meta" align="justify">&nbsp;</div>
<div class="article-index-meta" align="justify">&nbsp;</div>
<div class="article-index-content" align="justify">&nbsp;</div>
<div class="article-index-content" align="justify">1. Hukumnya</p>
<p>Zakat Fitri ini (hukumnya) wajib berdasarkan hadits (dari) Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma:&ldquo;Rasulullah Shalallahu &lsquo;alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri [pada bulan Ramadhan kepada manusia].&rdquo;194)[HR Bukhari (3/291) dan Muslim (984) dan tambahannya pada Muslim]<span id="more-154"></span></p>
<p>Dan berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: &ldquo;Rasulullah Shalallahu &lsquo;alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri.&rdquo;195)[Riwayat Abu Daud (1622) dan An Nasa&rsquo;I (5/50), padanya ada Al Hasan ber-&lsquo;an&rsquo;anah. Dan hadits sebelumnya sebagai syahid]</p>
<p>Sebagian Ahlul ilmi menyatakan bahwa zakat fithri telah mansukh oleh hadits Qais bin Sa&rsquo;ad bin Ubadah, ia berkata: &ldquo;Rasulullah Shalallahu &lsquo;alaihi wassalam memerintahkan kami dengan shadaqah fithri sebelum diturunkannya (kewajiban) zakat dan tatkala diturunkannya (kewajiban) zakat beliau tidak memerintahkan kami dan tidak pula melarang kami, tetapi kami mengerjakan (mengeluarkan zakat fithri).&rdquo;</p>
<p>Al Hafidz Rahimahullah menjawab sangkaan tersebut dengan perkataannya (3/368): &ldquo;bahwa pada sanadnya ada rawi yang tidak dikenal196) [Akan tetapi hadits tersebut mempunyai penguat, dan dikeluarkan oleh An Nasa&rsquo;I (5/49) dan Ibnu Majah (1/585) dan Ahmad (6/6), Ibnu Khuzaimah (4/81) dan Al Hakim (1/410) dan Al Baihaqi (4/159) dari beberapa jalan, dan sanadnya shahih] dan kalaupun dianggap shahih tidak ada dalil yang menunjukkan atas naskh (diahapusnya) hadits Qais yang menunjukkan wajibnya zakat fithri, mungkin Rasulullah Shalallahu &lsquo;alaihi wassalam mencukupkan dengan perintah yang pertama, karena turunnya suatu kewajiban tidaklah menggugurkan kewajiban yang lain.&rdquo;</p>
<p>Imam Al Khathabiy Rahimahullah berkata dalam Ma&rsquo;alimus Sunan (2/214): &ldquo;Ini tidak menunjukkan hilangnya kewajiban zakat fithri, tetapi hanya menunjukkan tambahan dalam jenis ibadah, tidak mengharuskan dimansukhknya hukum sebelumnya, kedudukan zakat harta (sebagaiman) kedudukan zakat fithri (yaitu) berkaitan dengan riqab (orang per-orang).&rdquo;</p>
<p>2. Siapa yang Wajib Zakat ?</p>
<p>Zakat fithri wajib atas kaum muslimin, anak kecil, besar, laki-laki, perempuan, orang yang merdeka maupun hamba. Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Umar Radhiallahu anhuma: &ldquo;Rasulullah Shalallahu &lsquo;alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri sebanyak satu gantang kurma, atau satu gantang gandum atas hamba dan orang yang merdeka, kecil dan besar dari kalangan kaum muslimin.&rdquo;197)[HR Bukhari (3/291) dan Muslim (984)]</p>
<p>Sebagian Ahlul ilmi ada yang mewajibkan zakat fithri pada hamba yang kafir karena hadits Abu Hurairah Radhiallahu anhu: &ldquo;Hamba tidak ada zakatnya kecuali zakat fithri.&rdquo;198) [HR Muslim (982)]<br />Hadits ini umum, sedang hadits Ibnu Umar khusus, sudah maklum hadits khusus jadi penentu hadits umum. Yang lain berkata, &ldquo;Tidak wajib atas orang yang puasa karena hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: &ldquo;Rasulullah Shalallahu &lsquo;alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri, pensuci bagi orang yang puasa dari perbuatan sia-sia, yang jelek dan (memberi) makanan bagi orang yang miskin.&rdquo;199) [Telah lewat takhrijnya]</p>
<p>Imam Al Khathabiy dalam Ma&rsquo;alimus Sunan (3/214) menegaskan: &ldquo;Zakat fithri wajib atas orang yang puasa yang kaya atau orang fakir yang mendapatkan makanan dari dia, jika &lsquo;illat diwajibkannya karena pensucian, maka seluruh orang yang puasa butuh akan hal itu, jika berserikat dalam &lsquo;illat berserikat pula dalam hukum.&rdquo;</p>
<p>Al Hafidz menjawab (3/369): &ldquo;Pensucian disebutkan untuk menghukumi yang dominan, zakat fithri diwajibkan pula atas orang yang tidak berpuasa seperti diketahui keshahihannya atau orang yang masuk Islam sesaat sebelum terbenamnya matahari.&rdquo;</p>
<p>Sebagian lagi berpendapat bahwa zakat fithri wajib juga atas janin, tetapi kami tidak menemukan dalil akan hal itu, karena janin tidak bisa disebut sebagai anak kecil atau besar, baik menurut masyarakat maupun istilah.</p>
<p>3. Macam Zakat Fithri</p>
<p>Zakat Fithri dikeluarkan berupa satu gantang gandum, satu gantang kurma, satu gantang susu, satu ganang anggur kering atau salt (sejenis gandum yang tidak berkulit), karena hadits Abu Sa&rsquo;id Al Khudri Radhiallahu anhu: &ldquo;Kami mengeluarkan zakat (pada zaman Rasulullah Shalallahu &lsquo;alaihi wassalam) satu gantang makanan, satu gantang gandum, satu gantang korma, satu gantang susu kering, satu gantang anggur kering.&rdquo;200) [HR Bukhari (3/294) dan Muslim (985)]</p>
<p>Dan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: &ldquo;Rasulullah Shalallahu &lsquo;alaihi wassalam mewajibkan atu gantang gandum, satu gantang korma dan satu gantang salt.&rdquo;201) [Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah (4/80) dan Al Hakim (1/409-410)</p>
<p>Telah ikhtilaf dalam tafsir lafadz makanan dalam hadits Abu Sa&rsquo;id Al Khudri, ada yang bilang hinthah (gandum yang bagus) ada yang bilang selain itu, namun yang paling kuat (yang membuat hati ini tenang) lafadz di atas mencakup seluruh yang dimakan termasuk hinthah dan jenis lainnya, tepung dan adonan, semuanya telah dilakukan oleh para sahabat berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: <br />&ldquo;Rasulullah Shalallahu &lsquo;alaihi wassalam menyuruh kami untuk mengeluarkan zakat Ramadhan satu gantang makanan dari anak kecil, besar, budak dan orang yang merdeka. Barangsiapa yang memberi salt (sejenis gandum yang tidak berkulit) akan diterima, aku mengira beliau berkata, &ldquo;Barangsiapa yang mengeluarkan berupa tepung akan diterima, barangsiapa yang mengeluarkan berupa adonan, diterima.&rdquo;202) [Dikeluarkan Ibnu Khuzaimah (4/180), sanadnya hasan]</p>
<p>Dari beliau Shalallahu &lsquo;alaihi wassalam bersabda: &ldquo;Zakat fithri satu gantang makanan, barangsiapa yang membawa gandum diterima, yang membawa korma diterima, yang membawa salt (gandum yang tidak berkulit) diterima, yang membawa anggur kering diterima, aku mengira beliau berkata: &ldquo;yang membawa adonan diterima.&rdquo;203) [Dikeluarkan Ibnu Khuzaimah (4/180), sanadnya hasan]</p>
<p>Adapun hadits-hadits yang menafikan adanya hinthah (gandum) atau bahwasanya Mu&rsquo;awiyah Radhiallahu anhu berpendapat untuk mengeluarkan dua mud dari samara (gandum) Syam, dan bahwa satu mud hinthah itu melebihi yang ada di sini. Ini dikuat-kan oleh perkataan Abu Sa&rsquo;id: &ldquo;Dulu makanan kami adalah gandum, anggur kering, susu yang dikeringkan dan korma.&rdquo;204) [Telah lewat takhrijnya]</p>
<p>Yang membantah seluruh dalil orang yang menyelisihi kita adalah satu pembahasan yang akan datang ketika menjelaskan takaran zakat fithri, menurut hadits-hadits yang shahih yang menegaskan adanya hinthah bahwa dua mud hinthah sama dengan satu gantang anggur, agar kaum muslimin yang mendudukkkan sahabat sesuai dengan kedudukan mereka, bahwa pendapat Mua&rsquo;wiyah bukanlah ijtihad hasil dari pemikiran sendiri, tetapi berdasarkan hadita marfu&rsquo; sampai kepada Rasululllah Shalallahu &lsquo;alaihi wassalam.</p>
<p>4. Ukuran Zakat Fithri</p>
<p>Seorang muslim diperbolehkan zakat fithri sesuai dengan jenis yang disebutkan tadi, mereka ikhtilaf tentang hinthah, ada yanga mengatakan setengah gantang ini yang rajih, dan yang paling sahahih berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu &lsquo;alaihi wassalam:<br />&ldquo;Tunaikanlah satu gantang gandum atau korma, untuk dua orang satu gantang dari gandum atas orang merdeka, hamba, anak kecil atau besar.&rdquo;205) [Riwayat Abu Daud (2340), Nasa&rsquo;I (7/281), Al Baihaqi (6/31) dari Ibnu Umar dengan sanad shahih].</p>
<p>Gantang yang teranggap adalah gantangnya penduduk Madinah, berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: &ldquo;Timbangan yang teranggap adalah timbangannya Ahlu Mekah, dan kiloan yang teranggap adalah kiloan-nya orang madinah.&rdquo;206) [Riwayat Abu Daud (2340), Nasa&rsquo;I (7/281), Al Baihaqi (6/31) dari Ibnu Umar dengan sanad shahih]</p>
<p>5. Siapakah yang harus dibayar zakatnya?</p>
<p>Seorang muslim harus mengeluarkan zakat fithri untuk dirinya dan seluruh orang yang dibawah tanggungannya, baik anak kecil maupun orang tua laki-laki dan perempuan, orang yang merdeka dan budak, berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiallahu anhuma: &ldquo;kami diperintah oleh Rasulullah Shalallahu &lsquo;alaihi wassalam (mengeluarkan) shadaqah fithri atas anak kecil dan orang tua, orang merdeka dan hamba dari orang-orang yang membekalinya.&rdquo;207) [Dikeluarkan oleh Daruquthni (2/141) dan Ibnu Umar dengan sanad dhaif (lemah). Dan dikeluarkan Al Baihaqi (4/161) dari jalan yang lain dari Ali, dan sanadnya terputus. Dan padanya ada jalan yang mauquf dari Ibnu Umar pada Inu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf (4/37) dengan sanad shahih. Maka -dengan jalan-jalan ini- maka haditsnya menjadi hasan]</p>
<p>6. Kemana Disalurkannya</p>
<p>Zakat tidak boleh diberikan kecuali kepada orang yang berhak menerimanya, mereka adalah orang-orang miskin berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: &ldquo;Rasulullah Shalallahu &lsquo;alaihi wassalam zakat fithri sebagai pembersih (diri) bagi yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perbuatan kotor dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin.&rdquo;208) [Telah lewat takhrijnya]. Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam di dalam Majmu&rsquo; Fatawa (2/71-78) serta murid beliau Ibnul Qayyim pada kitabnya yang bagus Zaadul Ma&rsquo;ad (2/44).</p>
<p>Sebagian Ahlul ilmi berpendapat bahwa zakat fithri diberikan kepada delapan golongan, tetapi (pendapat) ini tidak ada dalilnya. Dan Syaikhul Islam telah membentahnya pada kitab yang telah disebutkan baru saja, maka lihatlah kitab tersebut, karena hal itu sangat penting.</p>
<p>Termasuk amalan sunah jika ada seseorang yang bertugas mengumpulkan zakat tersebut (untuk diberikan kepada yang berhak &ndash;pent). Sungguh Nabi Shalallahu &lsquo;alaihi wassalam telah mewakilkan kepada Abu Hurairah Radhiallahu anhu, ia berkata: &ldquo;Rasulullah mengkhabarkan kepadaku agar aku menjaga zakat Ramadhan.&rdquo;209) [Dikeluarkan oleh Bukhari (4/396)]</p>
<p>Dan sungguh dahulu pernah Ibnu Umar Radhiallahu anhuma mengeluarkan zakat kepada orang-orang yang menangani zakat dan mereka adalah panitia yang dibentuk oleh Imam (pemerintahan, pent) untuk mengumpulkannya. Beliau (Ibnu Umar) mengeluarkan zakatnya satu hari atau dua hari sebelum &lsquo;Iedul Fithri, dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah (4/83) dari jalan Abdul Warits dari Ayyub, aku katakan: &ldquo;Kapankah Ibnu Umar mengeluarkan satu gantang?&rdquo; Berkata Ayyub: &ldquo;Apabila petugas telah duduk (bertugas).&rdquo; Aku katakan: &ldquo;Kapankah petugas itu mulai bertugas?&rdquo; Beliau menjawab: &ldquo;Satu hari atau dua hari sebelum &ldquo;Idul Fithri.&rdquo;</p>
<p>7. Waktu Penunaian Zakat</p>
<p>Zakat fithri ditunaikan sebelum orang-orang keluar (rumah) menuju sholat &lsquo;Id dan tidak bleh diakhirkan (setelah) shalat atau dimajukan penunaiannya, kecuali satu atau dua hari (sebelum &lsquo;Id)210) [Lihat pada kitab Ahkamul &lsquo;Idain fis Sunnah Al Muthaharah karya Ali Hasan Ali Abdul Hamid, cet.maktabah Al Islamiyah] berdasarkan perbuatan Ibnu Umar Radhiallahu anhuma &ndash;berdasarkan kaidah rawi hadits diketahui dengan makna riwayatnya- maka apabila penunaian zakat itu diakhirkan (setelah) shalat maka dianggap sebagai shadaqah berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: &ldquo;&hellip; Barangsiapa yang menunaikan zakatnya sebelum shalat maka dia adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka dia adalah merupakan shadaqah dari beberapa shadaqah (yang ada).&rdquo;211) [Telah lewat takhrijnya]</p>
<p>8. Hikmah Zakat</p>
<p>Allah &#8216;Azza wa Jalla mewajibkan zakat sebagai pensucian diri bagi orang-orang yang berpuasa dari (perbuatan) sia-sia dan kotor serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin untuk mencukupi (kebutuhan ) mereka pada hari yang bagus tersebut berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma yang telah lalu.</p>
<p>(Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR), penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, Bab &#8220;Zakat Fitrah&#8221;. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H. Edisi Indonesia) </p></div>
<div class="article-index-content" align="justify">&nbsp;</div>
<div class="article-index-content" align="justify">url: <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=777">http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=777</a></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abafadhlan.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abafadhlan.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abafadhlan.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abafadhlan.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abafadhlan.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abafadhlan.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abafadhlan.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abafadhlan.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abafadhlan.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abafadhlan.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abafadhlan.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abafadhlan.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abafadhlan.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abafadhlan.wordpress.com/154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=154&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/09/12/zakat-fitrah-seperti-rasulullah-shalallahu-alaihi-wassalam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4e082dd1dfeb37254d35b6cc9e1acba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abafadhlan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Menunaikan Zakat Fithri</title>
		<link>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/09/12/bagaimana-menunaikan-zakat-fithri/</link>
		<comments>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/09/12/bagaimana-menunaikan-zakat-fithri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 10:07:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abafadhlan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Romadhon]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abafadhlan.wordpress.com/2009/09/12/bagaimana-menunaikan-zakat-fithri/</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Ustadz Abu Hamzah Yusuf Di antara amalan yang menyempurnakan puasa kaum muslimin di bulan yang penuh barokah ini adalah zakatul fithr. Zakat ini disebut demikian karena ia wajib ditunaikan pada saat kaum muslimin berbuka (menyelesaikan ibadah puasanya di bulan Ramadhan). Oleh karenanya disebut pula sebagai shodaqoh Ramadhan. Menunaikan Zakat Fithri Sebagian para ulama menukilkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=153&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="article-index-title"></div>
<div class="article-index-meta">Penulis: Ustadz Abu Hamzah Yusuf</div>
<div class="article-index-meta"></div>
<div class="article-index-meta">Di antara amalan yang menyempurnakan puasa kaum muslimin di bulan yang penuh barokah ini adalah zakatul fithr. Zakat ini disebut demikian karena ia wajib ditunaikan pada saat kaum muslimin berbuka (menyelesaikan ibadah puasanya di bulan Ramadhan). Oleh karenanya disebut pula sebagai shodaqoh Ramadhan.<span id="more-153"></span></p>
<p>Menunaikan Zakat Fithri</p></div>
<div class="article-index-meta">Sebagian para ulama menukilkan ijma&#8217; (kesepakatan) ulama tentang wajibnya menunaikan zakat ini. Dan ini adalah pendapat yang rajih/ kuat meskipun pada kenyataannya ada beberapa ulama yang menyatakan sunnahnya zakat fithri ini. Di antara yang memperkuat pendapat sebagian besar para ulama adalah hadits dari Ibnu &#8216;Umar Radiyallahu &#8216;anhu bahwa: &#8220;Nabi Muhammad Shalallahu &#8216;alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri (ketika Ramadhan berakhir) bagi setiap orang merdeka atau budak, lelaki atau perempuan, yang besar maupun kecil dari kalangan muslimin berupa kurma (tamr) atau gandum sebanyak 1 sha&#8217;. Dan beliau memerintahkan agar zakat ini ditunaikan sebelum kaum Muslimin keluar menuju lapangan (untuk menunaikan) sholat Ied. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Yang pasti, Allah Ta&#8217;ala mensyariatkan ibadah ini karena mempunyai keutamaan dan hikmah yang besar.Maka di antara hikmah dari zakat fithri adalah:<br />
1. Sebagai pembersih bagi orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, menyempurnakan kekurangan pahala puasanya di bulan Ramadhan oleh karena perbuatan sia-sia/ dosa.<br />
2. Sebagai bentuk rasa syukur yang ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, setelah mampu menyelesaikan ibadah Ramadhan dengan baik.<br />
3. Mempererat ukhuwwah antara kaum muslimin, di mana dengan pemberian zakat ini akan terjalin hubungan yang baik antara dhu&#8217;afa dan aghniya. Kaum dhu&#8217;afa tak lagi disibukkan dengan kerja keras banting tulang bahkan kadang terpaksa mengemis untuk memperoleh makanan yang akan dimakannya pada saat Idul Fithri. Dengan demikian mereka akan turut bergembira dan merasakan kemenangan di hari tersebut.<br />
Demikianlah di antara hikmah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui segala sesuatu.<br />
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam Fathul Baari (III/369) berkata: &#8220;Zakat Fithri diwajibkan untuk orang yang berpuasa dan juga orang yang tidak berpuasa sebagaimana hal ini telah diketahui keshahihannya. Demikian pula orang yang baru masuk Islam sesaat sebelum terbenam di hari terakhir bulan Ramadhan, maka ia pun terkena kewajiban menunaikannya.&#8221;</p>
<p>Dengan apa zakat fithri dibayarkan</p></div>
<div class="article-index-meta">
Dari hadits di atas kita ketahui bahwa zakat fithri adalah dengan memberikan gandum dan tamr (kurma) seberat 1 sha&#8217;. Lalu apakah terbatas hanya pada dua jenis makanan ini? Maka pertanyaan ini akan terjawab dengan hadits marfu&#8217; (sanadnya sampai Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wassalam) yang diriwayatkan dari Abu Sa&#8217;id Al-Khudry bahwasanya dia berkata: &#8220;Kami dahulu memberikan zakat fithri di masa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam seukuran 1 sha&#8217; makanan atau 1 sha&#8217; kurma atau 1 sha&#8217; gandum atau 1 sha&#8217; aqith (susu kambing yang dipanaskan hingga berbusa lalu diambil saripatinya dan dibiarkan hingga mengeras) atau 1 sha&#8217; anggur kering.&#8221;</p>
<p>Ternyata dalam dua hadits ini, tidak kita dapati penyebutan beras atau sagu sebagai bahan makanan pokok di negeri ini. Sehingga apakah kita harus mencari bahan-bahan yang tersebut dalam dua hadits di atas untuk membayar zakat fithri kita?</p>
<p>Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah, pendapat yang paling masyhur di dalam madzhab Hanbali (madzhabnya pengikut Imam Ahmad ibnu Hanbal) adalah pendapat bahwa membayar zakat dengan bahan-bahan selain yang disebutkan dalam dua hadits di atas adalah tidak sah. Akan tetapi pendapat ini, wallahu a&#8217;lam, adalah pendapat yang marjuh/ lemah. Sebab dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa&#8217;id Al-Khudry mengatakan: &#8220;Kami (para sahabat Nabi) memberikan zakat fithri di masa Nabi Shalallahu &#8216;alaihi wassalam berupa 1 sha&#8217; makanan.&#8221; Abu Sa&#8217;id Al-Khudry berkata: &#8220;Dan makanan kami pada saat itu adalah gandum, anggur kering, dan aqith.&#8221;</p>
<p>Riwayat ini menunjukkan bahwa makanan yang dibayarkan adalah makanan pokok yang paling banyak dibutuhkan oleh penduduk suatu negeri. Dan ini adalah pendapat ulama dari madzhab Malikiyyah dan Syafi&#8217;i dan diriwayatkan pula dari Imam Ahmad, serta dibenarkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi&#8217;iy rahimahullah ta&#8217;ala.</p>
<p>Syaikh Abdullah ibnu Abdirrahman ibnu Shalih Al-Bassam dalam Taisirul &#8216;Allam – keterangan beliau terhadap kitab Umdatul Ahkam – (I/404) mengatakan: &#8220;Bahan makanan yang paling utama untuk zakat fithri (dari bahan-bahan makanan yang ada) adalah bahan makanan pokok yang paling dibutuhkan oleh kaum muslimin (faqir dan miskin) setempat.&#8221; Sehingga di Indonesia, bahan makanan yang paling baik untuk zakat fithri adalah beras. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Berapa ukurannya</p>
<p>Dalam masalah ini, para ulama berbeda pendapat. Namun pendapat yang paling kuat adalah bahwa ukuran (takaran) 1 sha&#8217; adalah sha&#8217; nabawy (seukuran 4 mud yang ditakar dengan dua tangan Nabi Shalallahu &#8216;alaihi wassalam). Dan apabila dikonversikan ke satuan timbangan (berat) maka 1 sha&#8217; nabawy setara dengan 2040 (dua ribu empat puluh) gram atau 2,04 kg. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Bolehkah menggantikan bahan pokok dengan uang yang senilai?<br />
Al-Imam An-Nawawy menukilkan dalam Syarah Muslim (VII/53) bahwa seluruh ulama (kecuali Abu Hanifah) tidak membolehkan zakat fithri yang dibayarkan dengan uang. Dan inilah yang rajih/ kuat berdasarkan beberapa hal:<br />
1. Hadits tentang zakat fithri menunjukkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam mensyariatkan zakat ini untuk ditunaikan dalam bentuk makanan.<br />
2. Amalan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan sahabatnya menunjukkan bahwa mereka selalu menunaikan zakat ini berupa makanan, padahal kita mengetahui bahwa di masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pun telah beredar uang dinar dan dirham. Namun beliau dan para sahabatnya tetap menunaikan zakat dengan bahan makanan, tidak dengan dinar dan dirham.</p>
<p>Siapa yang harus dibayarkan zakatnya<br />
Setiap kaum muslimin (laki-laki dan perempuan) harus membayar zakatnya masing-masing jika dia memiliki kemampuan untuk membayarnya. Sehingga seorang wanita atau anak kecil yang memiliki harta harus menunaikan dengan hartanya. Adapun bila dia tidak memiliki harta maka yang harus membayar adalah orang yang menanggung nafkahnya kalau dia memiliki sesuatu yang lebih dari apa yang harus ia nafkahkan kepada orang-orang yang berada di bawah tanggungannya pada malam Ied dan esoknya.<br />
Bila dia tidak memiliki sesuatu kecuali apa yang harus dia nafkahkan untuk tanggungannya maka tidaklah wajib baginya untuk membayar, sebagaimana dikatakan oleh jumhur ulama. Adapun hamba sahaya, maka wajib bagi tuannya untuk membayar zakat budak tersebut berdasarkan hadits dari Abu Hurairah: &#8220;Tidak ada kewajiban untuk membayarkan shodaqoh seorang hamba sahaya kecuali zakat fithri.&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>Kepada siapa zakat fithri diberikan</p>
<p>Zakat fithri diberikan kepada yang berhak menerimanya. Mereka adalah orang-orang faqir dan miskin.<br />
Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu meriwayatkan: &#8220;Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam mewajibkan zakat fithri, pensuci bagi orang yang puas dari perbuatan sia-sia, yang jelek dan (memberi) makanan bagi orang yang miskin.&#8221;<br />
Pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagaimana disebutkan dalam kitabnya Majmu&#8217; Fatawa (II/71-78) serta Ibnul Qoyyim dalam kitab beliau Zadul Ma&#8217;ad (II/44).</p>
<p>Lalu mengapa zakat fithri ini tidak disalurkan kepada 8 golongan<br />
Sebagian para ulama menganggap bahwa zakat fithri disalurkan kepada 8 golongan. Mereka meng-qiyas-kannya dengan zakatul maal yang memang diberikan kepada 8 golongan sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat At-Taubah ayat 60. Namun qiyas ini tidaklah dibenarkan. Karena dalil dari Al-Qur&#8217;an ini adalah dalil yang bersifat umum. Sedangkan untuk zakat fithri adalah dalil khusus yaitu hadits Ibnu Abbas yang telah disebut di atas.</p>
<p>Bolehkah membentuk kepanitiaan untuk zakat fithri</p>
<p>Di antara sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam penunaian zakat fithri adalah pembentukan panitia khusus yang menerima zakat fithri dari kaum muslimin serta menyalurkannya kepada yang berhak menerima. Beliau telah mencontohkan hal ini di masa hidupnya. Diceritakan oleh Abu Hurairah: &#8220;Rasulullah memberitahukan kepadaku agar aku mengurus zakat Ramadhan.&#8221;</p>
<p>Ibnu Khuzaimah (dalam kitab [IV/83]) mencantumkan satu riwayat dari Abdul Warits dari Ayyub bahwasanya Ibnu Umar pernah menyalurkan zakat fithri melalui panitia yang dibentuk oleh pemerintah muslimin satu atau dua hari sebelum Idul Fithri. Abdul Warits bertanya kepada Ayyub: &#8220;Kapankah Ibnu Umar mengeluarkan satu sha&#8217; (zakat fithri)?&#8221; Ayyub menjawab: &#8220;Setelah panitia mulai bertugas.&#8221; Abdul Warits bertanya lagi: &#8220;Kapankah panitia itu mulai bertugas?&#8221; Maka beliau menjawab: &#8220;Satu atau dua hari sebelum Idul Fithri.&#8221;</p>
<p>Kapan zakat fithri ditunaikan</p>
<p>Ia harus ditunaikan (disampaikan kepada yang berhak) sebelum kaum muslimin keluar menuju tanah lapang untuk melaksanakan shalat Ied. Dan para ulama sepakat bahwa ia tidak boleh ditunda sama sekali. Ini berdasarkan hadits Ibnu Umar ra: &#8220;Bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan kum muslimin untuk membayarkan zakatnya sebelum keluarnya mereka untuk menjalankan shalat Ied.&#8221;<br />
Adapun memajukannya satu atau dua hari sebelum Iedul Fithri, maka hal ini diperbolehkan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para sahabat berdasarkan riwayat dari Al-Bukhari dari Ibnu Umar Radiyallahu ‘anhu. Dan Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu meriwayatkan suatu hadits bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: &#8220;Barangsiapa menunaikan zakat fithri sebelum shalat ied maka ia adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah dilakasanakan shalat iedul fithri maka ia dianggap sebagai salah satu jenis shodaqoh saja dan zakatnya tidak diterima.&#8221; (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lainnya dengan sanad yang hasan).<br />
Demikianlah beberapa hal yang berkaitan dengan ibadah zakat fithri. Oleh sebab itu, kami mengajak segenap kaum muslimin untuk menunaikan zakat fithri sesuai dengan tuntunan yang diberikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyempurnakan pahala ibadah puasa kita di bulan Ramadhan ini dengan zakat fithri yang kita tunaikan. Amin.<br />
(Dikutip dari tulisan Ustadz Abu Hamzah Yusuf, Bulletin al Wala wal Bara Edisi ke-2 Tahun ke-1 / 29 November 2002 M / 24 Ramadhan 1423 H, url sumber <a href="http://fdawj.atspace.org/awwb/th1/2.htm">http://fdawj.atspace.org/awwb/th1/2.htm</a>)</div>
<div class="article-index-meta"></div>
<div class="article-index-meta">url : <a>http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=121</a></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abafadhlan.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abafadhlan.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abafadhlan.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abafadhlan.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abafadhlan.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abafadhlan.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abafadhlan.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abafadhlan.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abafadhlan.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abafadhlan.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abafadhlan.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abafadhlan.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abafadhlan.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abafadhlan.wordpress.com/153/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=153&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/09/12/bagaimana-menunaikan-zakat-fithri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4e082dd1dfeb37254d35b6cc9e1acba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abafadhlan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEPUTAR I’TIKAF</title>
		<link>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/09/12/seputar-i%e2%80%99tikaf/</link>
		<comments>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/09/12/seputar-i%e2%80%99tikaf/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 09:45:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abafadhlan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Romadhon]]></category>
		<category><![CDATA[i'tikaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abafadhlan.wordpress.com/2009/09/12/seputar-i%e2%80%99tikaf/</guid>
		<description><![CDATA[Mengenali dan Mengamalkannya sesuai Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Ust. Abu Ahmad Kadiri Ust. Abu ‘Amr Ahmad Merupakan sebuah sunnah yang telah banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin ketika bulan Ramadhan adalah I’tikaf. Setiap kaum muslimin tentu berharap agar Ramadhan yang dia laksanakan bernilai di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, terutama ketika 10 terakhir Ramadhan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=147&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;" align="justify"><strong>Mengenali dan Mengamalkannya sesuai Sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:center;" align="justify">Ust. Abu Ahmad Kadiri</p>
<p style="text-align:center;" align="justify">Ust. Abu ‘Amr Ahmad</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Merupakan sebuah sunnah yang telah banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin ketika bulan Ramadhan adalah I’tikaf. Setiap kaum muslimin tentu berharap agar Ramadhan yang dia laksanakan bernilai di sisi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, terutama ketika 10 terakhir Ramadhan yang di dalamnya terdapat <em>Lailatul Qadr</em> malam yang di dalamnya dilipatgandakan amalan seorang hamba lebih baik daripada 1000 bulan.</p>
<p><span id="more-147"></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span id="more-361"> </span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>semasa hidupnya telah memberikan contoh kepada umatnya untuk meningkatkan amaliah ibadah ketika memasuki 10 Terakhir Ramadhan tersebut, dan berusaha untuk mencari malam Lailatul Qadr dengan mengerahkan upaya maksimal, sebagaimana hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha </em>:</p>
<p style="text-align:right;" align="justify"><strong>كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ</strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><em>“Dahulu Rasulullah ketika memasuki 10 Terakhir dari bulan Ramadhan, belia mengencangkan tali sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya”</em>(<strong>HR Al Bukhari</strong> <strong>no.1884</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Di antara yang dilakukan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pada 10 Terakhir Ramadhan adalah I’tikaf di masjid.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Maka berikut ini beberapa hukum ringkas yang terkait dengan permasalahan I’tikaf:</p>
<p><span style="color:#008000;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="color:#008000;"><strong> </strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="color:#008000;"><strong>Pengertian I’tikaf</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong>I’tikaf secara bahasa</strong> adalah terus-menerus dalam mengerjakan sesuatu atau menahan diri dari sesuatu.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Adapun pengertian <strong>I’tikaf secara syar’i</strong> adalah tinggal di masjid oleh orang tertentu, dengan sifat tertentu dalam rangka konsentrasi beribadah kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="color:#008000;"><strong>Hukum I’tikaf</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">I’tikaf merupakan ibadah sunnah yang disyari’atkan sebagaimana yang telah disebutkan di dalam Al-Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Dalil dari Al-Qur’an, firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>:</p>
<p style="text-align:right;" align="justify"><strong>وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ [البقرة/187]</strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><em>“Dan janganlah kalian mencampuri mereka itu (istri-istri kalian), sedang kalian beri’tikaf”</em>. (<strong>Al Baqarah: 187</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Dalil dari As Sunnah:</p>
<p style="text-align:right;" align="justify"><strong>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ</strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><em>“Bahwasanya Rasulullah dahulu beri’tikaf ketika 10 Terakhir Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian beri’tikaflah istri-istri beliau setelah itu”.</em>(<strong>Muttafaqun’alaih</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Serta para ulama’ bersepakat tentang sunnahnya perkara ini.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="color:#008000;"><strong>Tempat I’tikaf</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Sebagian ‘ulama berpendapat bahwa i’tikaf hanya bisa dilakukan pada 3 masjid saja, yaitu Al-Masjidil Haram di Makkah, Masjid An-Nabawi di Madinah, dan Masjid Al-Aqsha di Palestina.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Jumhur ‘ulama berpendapat bahwa seluruh masjid bisa digunakan untuk beri’tikaf sebagaimana keumuman firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>:</p>
<p style="text-align:right;" align="justify"><strong>وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ [البقرة/187]</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><em>“Dan janganlah kalian mencampuri mereka itu (istri-istri kalian), sedang kalian beri’tikaf”</em> (<strong>Al Baqarah: 187</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Karena pada ayat di atas sasarannya adalah seluruh kaum muslimin, tidak terbatas pada masjid tertentu. Kaum muslimin kebanyakan tinggal di luar 3 masjid tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Adapun hadits Hudzaifah <em>radhiyallahu ‘anhu </em>:</p>
<p style="text-align:right;" align="justify"><strong>لااعتكاف إلا في ثلاثة مساجد المسجد الحرام والمسجد الاقصى ومسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم</strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><em>“Tidak ada I’tikaf kecuali pada 3 masjid (Masjid Al-Haram, Masjid Al-Aqsha, dan Masjid An-Nabawy)</em> (<strong>Riwayat Ibnu Abi Syaibah</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">maka para ulama’ membawanya kepada <em>afdhaliyyah</em> (nilai yang lebih utama), <strong>yakni tidak ada I’tikaf yang utama kecuali pada tiga masjid tersebut</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="color:#008000;"><strong>Keluarnya seseorang ketika beri’tikaf</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Jika ada keperluan seperti buang hajat (BAK, BAB), maka para ulama bersepakat tentang bolehnya hal tersebut. Adapun jika selain buang hajat maka disesuaikan dengan kondisi.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Al-Imam Ibnu Qudamah <em>rahimahullah</em> berkata : “Dan yang termasuk dalam makna hajat adalah kebutuhan seseorang terhadap makanan dan minuman jika tidak didapati seorang pun yang mengantarkan makanan bagi dia, kemudian jika seseorang ingin muntah maka dia harus menjauh dari masjid, dan seluruh perkara yang mau tidak mau harus dia lakukan namun tidak mungkin dia lakukan di masjid, maka boleh bagi dia untuk keluar dari masjid. Yang demikian tidak membatalkan i’tikafnya dengan catatan tidak berlama-lama. Begitu pula keluar untuk melaksanakan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>seperti seseorang yang beri’tikaf di masjid yang tidak didirikan shalat jum’at maka dia harus keluar untuk menunaikan shalat jum’at dan tidak membatalkan I’tikafnya.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Sedangkan jika keluar tanpa ada keperluan (hajat) maka hal tersebut membatalkan I’tikafnya walaupun sebentar, sebagaimana pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i, Al-Imam Malik, dan Al-Imam Abu Hanifah.”</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Sebagian ‘ulama menganjurkan agar i’tikaf dilakukan di masjid yang ditegakkan shalat Jum’at padanya.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin <em>rahimahullah </em>berkata :</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">“Adapun keluar dari masjid jika sebagian badannya maka tidak mengapa. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari shahabat ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha </em>berkata :</p>
<p style="text-align:right;" align="justify">كان النبي صلى الله عليه وسلم يخرج رأسه من المسجد وهو معتكف، فأغسله وأنا حائض &#8211; وفي رواية &#8211; كانت ترجل رأس النبي صلى الله عليه وسلم وهي حائض</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">“Dulu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengeluarkan kepalanya dari masjid ketika beliau sedang beri’tikaf. Maka aku (‘Aisyah) mencucinya dalam keadaan aku haidh.”</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Dalam riwayat lain : “Aisyah menyisir kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>padahal dia (‘Aisyah) sedang haidh.”</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Kalau keluarnya dengan seluruh badannya, maka ada tiga kondisi :</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong>Pertama </strong>: Keluar karena urusan yang tidak bisa tidak, maka secara tabi’at maupun secara syar’i. Seperti buang hajat kencing ataupun buang air besar, wudhu’, mandi janabah, atau selainnya : makan, minum, maka itu semua boleh jika memang tidak mungkin dilakukan di masjid. Namun jika memungkinkan dilakukan di masjid, maka tidak boleh keluar dari masjid. Misalnya, jika di masjid terdapat kamar mandi sehingga memungkinkan baginya untuk buang hajat atau mandi di situ. Atau jika ada orang yang mengantarkan kepadanya makanan dan minumnya. Maka dalam kondisi tersebut tidak boleh keluar dari masjid karena tidak ada hal yang mengharuskannya untuk keluar.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong>Kedua </strong>: Keluar karena urusan ketaatan yang tidak wajib atasnya, seperti menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah, dan lainnya maka tidak boleh. Kecuali jika ia mempersyaratkannya sejak awal i’tikafnya. Misalnya jika di keluarnya ada orang sakit yang mesti ia jenguk, atau dikhawatirkan wafat, maka dia mempersyarakat sejak awal i’tikaf bahwa ia hendak keluar untuk keperluan tersebut, maka tidak mengapa baginya keluar.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong>Ketiga </strong>: Keluar untuk sesuatu yang menafikan i’tikafnya, seperti keluar untuk jual beli, berjima’ dengan istrinya, dan semisalnya, maka ini tidak boleh, baik ia mempersyarakat sejak awal maupun tidak. Karena perbuatan tersebut membatalkan i’tikaf dan menafikan tujuannya. “</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">(<em>Majalis Syahri Ramadhan</em>).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="color:#008000;"><strong>Kapan dimulai dan diakhiri waktu I’tikaf</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">I’tikaf dimulai ketika tenggelamnya matahari hari ke-20 pada bulan Ramadhan sebagaimana pendapat Jumhur ulama’. Berdalil bahwa dimulainya hari itu dengan tenggelamnya matahari. I’tikaf diakhiri dengan tenggelamnya matahari pada malam ‘Ied.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="color:#008000;"><strong>Batasan I’tikaf</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Tidak ada batasan waktu tertentu untuk I’tikaf, begitu pula syari’at tidak membatasinya, dan ini merupakan pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i, Ahmad, dan para ulama yang lainya. Bahkan diriwayatkan dari Abu Hanifah sahnya i’tikaf walaupun hanya 1 jam.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Dan sebagaimana kisah Umar <em>radhiyallahu ‘anhu </em>:</p>
<p style="text-align:right;" align="justify"><strong>كُنْتُ نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ قَالَ فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ</strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><em>“Dahulu semasa jahiliyyah aku bernadzar untuk beri’tikaf sehari di Masjid Al Haram. Maka Rasulullah bersabda: “Penuhilah nadzarmu”</em> (<strong>Muttafaqun’alaih</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="color:#008000;"><strong>I’tikaf di luar Ramadhan</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">I’tikaf di luar Ramadhan diperbolehkan, sebagaimana kisah Umar t ketika bernadzar semasa jahiliyyahnya untuk beri’tikaf selama 1 hari di Masjid Al Haram akan tetapi yang disyari’atkan adalah di bulan Ramadhan, dan kaum muslimin tidak diperintahkan untuk beri’tikaf selain bulan Ramadhan.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="color:#008000;"><strong>I’tikaf di daerah lain</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>melarang umatnya untuk melakukan <em>syaddur rihal </em>(perjalanan serius untuk tujuan ibadah) kecuali ke 3 masjid, sebagaimana hadits Abu Sa’id Al Khudry <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>:</p>
<p style="text-align:right;" align="justify"><strong>لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِي هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><em>“Janganlah kalian menempuh perjalanan yang jauh kecuali pada 3 masjid: Masjidku ini (Masjid An Nabawy), Masjid Al Haram, dan Masjid Al Aqsha”.</em>(<strong>Muttafaqun’alaih</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Adapun selain 3 masjid di atas para ulama bersepakat tidak disyari’atkannya. Termasuk dalam hal ini i’tikaf. Tidak boleh bagi seseorang sengaja melakukan perjalanan ke masjid lain di luar daerahnya untuk melakukan i’tikaf di masjid tersebut, yang demikian termasuk <em>syaddur rihal </em>yang dilarang oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pada hadits di atas.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Kecuali bagi seorang musafir yang ketika sampai di suatu tempat kemudian dia berniat untuk beri’tikaf di masjid di tempat tersebut tanpa ada niat sebelumnya sejak dari negerinya bahwa ia akan i’tikaf di masjid tersebut, maka yang demikian tidak mengapa.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="color:#008000;"><strong>Apa yang dilakukan oleh seorang yang beri’tikaf (<em>mu’takif</em>)?</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">1. Mengikhlaskan niat kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">2. Menyibukkan diri dengan segala sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah <em>subhanahu wa ta’ala, </em>seperti membaca Al Qur’an, dzikir, memperbanyak shalat nawafil (sunnah), dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">3. Tidak menyia-nyiakan waktunya untuk hal-hal yang tidak berguna.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">4. Tidak meninggalkan masjid kecuali untuk kebutuhan yang mendesak (<em>dharury</em>).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Asy-Syaikh Al-’Utsaimin <em>rahimahullah </em>berkata :</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">“Tujuan i’tikaf adalah <strong>memutuskan diri dari berhubungan dengan manusia agar bisa konsentrasi beribadah kepada Allah di salah satu masjid, dalam rangka mencari keutamaan dan pahala dari-Nya, serta untuk mendapatkan <em>lailatul qadar</em></strong>. Oleh karena itu selayaknya bagi seorang yang beri’itikaf untuk <strong>menyibukkan diri dengan dzikir, qira’ah, shalat, dan ibadah, serta menjauhi hal-hal yang tidak perlu seperti berbincang tentang urusan dunia</strong>. Dan tidak mengapa berbincang sedikit dengan pembicaraan yang mubah dengan keluarganya atau yang lainnya karena adanya mashlahah. Berdasarkan hadits dari Shafiyyah <em>Ummul Mu`minin</em> <em>radhiyallahu ‘anhu </em>dia berkata : “Dulu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>beri’tikaf, maka aku mengunjungi beliau pada salah satu malam. Maka aku berbincang dengan beliau, kemudian aku berdiri untuk pulang, maka Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>berdiri bersamaku (mengantar). <strong>Muttafaqun ‘alaihi</strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="color:#008000;"><strong>Beberapa Fatwa Penting </strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong>Bolehkan <em>mu’takif </em>(seorang yang beri’tikaf) mengajar atau menyampaikan pelajaran?</strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong>Asy-Syaikh Al-’Utsaimin </strong><em>rahimahullah </em>menjawab : Yang <em>afdhal </em>(lebih utama) bagi seorang <em>mu’takif </em>adalah dia menyibukkan diri dengan ibadah khusus, seperti dzikir, shalat, qira’atul qur’an, dan semisalnya. Namun jika memang ada keperluan untuk mengajari seseorang atau belajar, maka tidak mengapa. Karena yang demikian juga termasuk dzikir kepada Allah <em>‘azza wa jalla</em>.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong>Bolehkah bagi <em>mu’takif </em>berhubungan dengan telepon untuk menyelesaikan urusan umat?</strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong>Asy-Syaikh Al-’Utsaimin </strong><em>rahimahullah </em>menjawab :</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">“Ya boleh bagi seorang <em>mu’takif </em>untuk berhubungan dengan telepon guna menyelesaikan sebagian kebutuhan kaum muslimin, apabila telepon tersebut memang berada di masjid tempat dia beri’tikaf, karena dia tidak perlu keluar dari masjid. Namun apabila teleponnya berada di luar masjid, maka ia tidak boleh keluar untuk itu.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Menyelesaikan keperluan-keperluan kaum muslimin, apabila orang tersebut memang sangat terkait dengannya maka dia tidak perlu i’tikaf. Menyelesaikan keperluan-keperluan kaum muslimin lebih penting daripada i’tikaf, karena manfaatnya lebih banyak. Manfaat lebih banyak lebih utama daripada manfaat yang terbatas, kecuali jika manfaat terbatas tersebut merupakan kewajiban dalam Islam.”</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="color:#008000;"><strong>Perhatian : </strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">1. Hendaknya para <em>mu’takif </em>senantiasa menjaga kebersihan dan kerapian masjid.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong>Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz</strong> <em>rahimahullah </em>berkata :</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">“Dengan tetap perhatian terhadap semangat untuk senantiasa menjaga kebersihan masjid dan waspada dari sebab-sebab yang bisa mengotori masjid, baik sisa-sisa makanan maupun yang lainnya. Berdasarkan hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>:</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><em>“Diperlihatkan kepadaku pahala-pahala umatku, sampai-sampai hanya sekedar kotoran yang dikeluarkan oleh seseorang dari masjid.” </em><strong>HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah</strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Dan berdasarkan hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha </em>bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memerintahkan membangun masjid di tiap-tiap kampung/qabilah, kemudian hendaknya dibersihkan dan diberi wewangian.” diriwayatkan oleh “Al-Khamsah” kecuali An-Nasa`i, sanadnnya <em>jayyid</em>.”</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">2. Adapun hadits</p>
<p style="text-align:right;" align="justify">ومن اعتكف يوماً ابتغاء وجه الله ؛ جعل الله بينه وبين النار ثلاثة خنادق ، كل خندق أبعد ما بين الخافقين</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><em>“Barangsiapa yang beri’tikaf satu hari karena mengharap wajah Allah, maka Allah jadikan antara dia dengan neraka tiga parit. Masing-masing parit (lebarnya) lebih jauh daripada jarak dua ufuk.” </em><strong>(HR. Ath-Thabarani)</strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Adalah hadits yang <strong>dha’if </strong>(lemah). Pada sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama <strong>Bisyr bin Salam Al-Bajali</strong>, dia adalah seorang perawi yang <em>munkarul hadits</em>, sebagaimana dikatan oleh Ibnu Abi Hatim, dan disepakati oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya <em>Lisanul Mizan</em>. (lihat <strong><em>Adh-Dha’ifah </em></strong>no. 5345).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">
<p style="text-align:justify;" align="justify">Semoga amalan kita dicatat di sisi Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>sebagai amal shalih.</p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Amin Ya Mujibas Sa’ilin</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<em>url : </em>http://www.assalafy.org/mahad/?page_id=181</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abafadhlan.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abafadhlan.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abafadhlan.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abafadhlan.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abafadhlan.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abafadhlan.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abafadhlan.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abafadhlan.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abafadhlan.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abafadhlan.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abafadhlan.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abafadhlan.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abafadhlan.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abafadhlan.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abafadhlan.wordpress.com&amp;blog=8891567&amp;post=147&amp;subd=abafadhlan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abafadhlan.wordpress.com/2009/09/12/seputar-i%e2%80%99tikaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4e082dd1dfeb37254d35b6cc9e1acba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abafadhlan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
